Tampilkan postingan dengan label Singapura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singapura. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juni 2012

Singapore Trip : The End

Setelah dua target utama kami tercapai,yakni ke Merlion Park dan Universal Studio Singapore, maka agenda kami pada hari ketiga di Singapura hanyalah mencari oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Melihat kondisi keuangan kami yang sudah pas-pasan, maka kami bertujuan mencari tempat yang menjual beraneka ragam oleh-oleh dengan harga yang murah. Saya sempat sms teman saya, Aini, pagi hari sebelum berangkat. Menceritakan tujuan mana saja yang telah kami jelajahi dan menanyakan padanya tempat mencari oleh-oleh yang murah. Aini menyarankan saya ke Bugis Village.

Berhubung uang Dollar Singapura kami sudah pas-pasan, maka tujuan awal kami adalah mencari Money Changer di sekitar Orchard Rd untuk menukarkan selembar uang 50 Dollar Amerika punya mama. Sebelum berangkat, kami sarapan sebentar dengan menu biskuit :D Pagi itu kami berangkat dari penginapan sekitar jam 8. Setelah berjalan sekitar 500 meter, sampailah kami di Orchard Rd. Wah, toko-toko masih banyak yang tutup. Hingga di satu pusat pertokoan yang sederhana, ada satu toko yang menjual oleh-oleh yang sudah buka. Mirip seperti di dekat Mustafa Center, semua barang yang ditawarkan seharga S$ 10 untuk 3 buah barang. Di sini kami sempat membeli sedikit oleh-oleh. Kemudian, kami bertanya kepada pemilik toko tersebut letak money changer terdekat. Ternyata, di toko sebelahnya, ada money changer kecil.

Selesai menukar uang, kami langsung menuju Stasiun Somerset, menuju Bugis Village. Untuk menuju Bugis village, kami transit di Stasiun City Hall, lalu melanjutkan perjalanan ke Stasiun Bugis. Di atas stasiun Bugis, terdapat mal yakni Bugis Junction. Keluar dari Bugis Junction. Di seberangnya, kami menemukan semacam pasar sederhana dengan banyak toko yang menjual oleh-oleh. Di sanalah, kami membelikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Macam-macam barang dijual di sini, mulai dari gantungan kunci, pajangan, kaos, asesoris, tas, dompet, sendal/sepatu... Macam-macamlah. Kami mencari yang unik-unik sebagai oleh-oleh. Yang menyenangkannya, di sini terdapat money changer yang menerima Rupiah untuk ditukarkan ke Dollar Singapura. 

Bugis Junction
Kami berputar-putar hingga tengah hari. Wah, perut mulai lapar, maka kami kembali ke Bugis Junction, mencari tempat makan. Di salah satu tembok, ada tulisan menginformasikan ada yang menjual nasi Padang di lantai 3, maka kami langsung ke sana. Ternyata di lantai itu, terdapat food court. Ada beragam makan makanan dijual di sana. Kami menemukan yang menjual nasi padang di salah satu kios sederhana di sana. Menunya lumayan mirip seperti di RM Padang di Jakarta. Wah... akhirnya kami bisa makan kenyang. Harganya sekitar S$ 20 untuk nasi, 2 jenis lauk, dan 1 jenis sayuran. Selesai makan, kami pulang. Uang kami sudah habis, yang tersisa adalah untuk ongkos taksi ke bandara dan jaga-jaga kalau ternyata pajak bandara tidak termasuk di tiket ke Jakarta.

Pulang dengan cara yang sama ketika berangkat. Karena masih ada beberapa Dollar Singapura (selain untuk ongkos taksi dan pajak bandara), kami sempat mampir di sebuah kedai yang menjual minuman ber-bubble dengan aneka rasa, yaitu Gong Cha di Orchard Rd. Kami menikmati minuman kami, sambil duduk di salah satu halte di Orchard Rd. Setelah itu, walaupun hari sebenarnya baru jam 2 siang, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan, menghabiskan hari dengan istirahat di hotel, menonton TV, menikmati wi-fi di penginapan (di hari terakhir, Iphone saya baru dapat sinyal wifi dari kamar, dengan password yang tebak-tebak sendiri, eh ternyata nama hotelnya). Untuk makan malam, kami menghabiskan stok pop mie yang kami bawa dari jakarta. 

Seperti yang pernah saya sebutkan di salah satu cerita saya sebelumnya, TV yang ada di kamar hanya terdiri dari satu TV lokal Singapura. Saya perhatikan sebagian besar isinya merupakan import dari acara luar negeri, mirip TV berbayar di Indonesia. Iklannya pun tidak banyak. Iklan yang paling saya ingat adalah iklan pemberi semangat kepada kontingen Singapura yang akan bertanding di Olimpiade London 2012 nanti. Kenapa? Karena mereka sangat bersemangat dan antusias terhadap perhelatan olah raga multicabang terbesar di dunia ini sudah dari jauh-jauh hari, bandingkan dengan TV lokal di Indonesia yang tidak ada sama sekali pemberitaan mengenai persiapan kontingen Indonesia untuk Olimpiade London 2012. Jangankan pemberitaan, iklan pun seperti yang saya lihat di TV lokal Singapura itu, tidak ada. Saya sempat melihat acara berita TV tersebut, isinya sebagian besar berita luar negeri. Berita dalam negeri hanya sedikit dan itu pun tidak mengarah ke ranah politik sama sekali. Memang... Bisa jadi TV lokal yang saya saksikan ini TV hiburan, bukan TV berita. 

Ya begitulah Singapura yang saya lihat, negara kota yang ke mana-mana serba cepat, dengan transportasi massal yang canggih dan bersih. Trotoar untuk pejalan kaki nyaman. Mobil yang lalu lalang tidak terlalu ramai karena sebagian besar penduduknya naik transportasi umum. Kami sangat jarang melihat motor, bahkan seingat kami tidak melihat motor yang sedang berjalan di jalan umum, yang kami lihat hanya yang terparkir di parkiran apartemen sederhana di dekat penginapan kami. Keamanan pun terjamin. Semua serba tertib dan teratur. Mudah-mudahan Jakarta bisa seperti ini suatu saat nanti.....

Besok paginya sekitar jam 05.45, kami check out dari hotel. Dengan bantuan resepsionis penginapan, kami minta dipanggilkan taksi. Tidak sampai 5 menit, taksi kami tiba di depan penginapan. Waktu itu masih gelap di Singapura. Sekitar 30 menit kami sampai di bandara. Biaya naik taksi sekitar S$ 23. Dengan penerbangan Air Asia, kami kembali ke Jakarta. Ternyata pajak bandara sudah termasuk di tiket, jadi kami tidak perlu bayar lagi. Berangkat tepat waktu jam 08.30 waktu Singapura, sampai di Jakarta jam 09.20. Saya langsung ke kantor, sementara mama setelah menge-drop saya ke kantor, pulang bersama papa yang menjemput kami di Terminal 3 Bandara International Soekarno Hatta.

Pesawat ini Membawa Kami Pulang ke Jakarta
Yaa... demikianlah perjalanan saya dan mama di Singapura. Sampainya kami di Jakarta, menandai akhir liburan panjang saya dan mama dengan rute CGK-PDG-CGK dan CGK-SIN-CGK. Liburan ini selain sebagai sarana refreshing juga menambah pengetahuan kami. Ahh... rasanya ingin kembali liburan... Mudah-mudahan nanti ada dana, waktu yang tepat serta badan dalam kondisi sehat.

Rabu, 13 Juni 2012

Singapore Trip : A Day in Universal Studio Singapore #2

Setelah makan siang, tenaga kami kembali terkumpul untuk lanjut mengelilingi Universal Studio Singapore. Keluar dari Discovery Food Court, kami disambut oleh patung replika 2 dinasaurus. Langsung saya minta tolong mama memfoto saya bersama mereka. 

Welcome to Jurassic Park
Selanjutnya kami melihat ada wahana semacam arum jeram di kawasan ini. Setelah mengamat-amati, kami mencari pintu masuknya, lalu mulailah kami ikut antrian. Pada saat mulai mengantri, kami melihat para pengunjung banyak yang bersiap mengenakan wet coat. Wah, khawatir baju kami bakal basah semua, padahal kami tidak membawa baju ganti, saya langsung keluar antrian untuk bertanya kepada petugas yang terdapat di depan pintu masuk, di mana bisa mendapatkan wet coat tersebut. Ternyata, tidak jauh dari pintu masuk, dijual wet coat itu. Harganya cukup mahal juga, S$ 3 untuk 1 buah wet coat ukuran orang dewasa. Setiap pembelian 1 buah ukuran dewasa, akan dapat gratis 1 buah untuk anak-anak. Akan tetapi, karena kami berdua memerlukan ukuran orang dewasa, maka kami membeli 2 buah ukuran dewasa, dengan yang ukuran anak-anak kami simpan (bahkan dibawa sampai Jakarta untuk kenang-kenangan) :P

Saya di Antara Tulang Belulang Dinosaurus :P
Nama wahana arum jeram ini adalah "Jurassic Park Rapids Adventure". Penjelasan pada Studio Guide : "enjoy a thrilling river raft ride through primeval dinosaur habitats where you will get wet and possibly soaked".

Jurassic Park Rapids Adventure

Antrian sudah sangat panjang. Bagusnya di setiap wahana di USSR ini, di dekat pintu masuk, diinformasikan waktu perkiraan mengantri sehingga setiap pengunjung dapat memprediksi lamanya mengantri dan membantu dalam memutuskan akan naik wahana tersebut atau tidak. Perkiraan waktu mengantri untuk arum jeram ini sekitar 1 jam dan memang benar, setelah 1 jam kami mengantri, tibalah giliran kami naik. Oh iya, ternyata di antara barisan antrian, terdapat mesin yang menjual wet coat, jadi kita dapat membelinya dengan memasukkan koin di mesin ini. Saya dan mama termasuk beruntung karena kami hanya berdua. Jadi untuk satu perahu pada arum jeram ini dapat diisi oleh 6 orang. Nah, kebetulan ada satu perahu yang sudah berisi 4 orang, sehingga tersisa 2 orang. Yang mengantri di depan kami kebetulan satu keluarga yang lebih dari 2 orang. Jadi ketika petugas di sana mencari 2 orang tambahan, saya langsung mengacung, dan kami dapat melewati antrian di depan untuk langsung masuk ke perahu. 

Kami sudah mengenakan wet coat kami ketika masuk ke perahu. Tas pun kami masukkan ke dalamnya. Perahu diluncurkan. Mirip seperti arum jeram di Dufan, hanya saja suasana sekitarnya adalah Taman Jurassic dengan di kanan kiri terdapat dinosaurus. Ada yang tiba-tiba muncul dari air, ada yang bergerak-gerak, ada yang mengeluarkan air dari mulutnya... Macam-macamlah dengan suara-suaranya. Banyak juga terdapat air terjun mini. Lalu kami masuk ke dalam gua. Ternyata di sana terdapat banyak dinosaurus. Ada suara-suara orang seperti di film The Lost World, sepertinya mengesankan kami sedang terjebak di antara dinosaurus yang akan menerkam kami dan mereka sedang berusaha menyelamatkan kami. Tiba-tiba perahu kami terhenti dan mentok di sebuah tembok. Setelah sekian lama berhenti, ternyata tembok di depan kami itu adalah lift. Pintu lift terbuka. Perahu kami masuk ke dalamnya dan tiba-tiba pintu lift tertutup. Dari atas, ditembakkan cahaya lampu sorot mengarah ke kami. Lift perlahan naik. Ternyata di atasnya ada kepala T-Rex siap menerkam kami. Kemudian, tidak lama setelah itu, perahu kami tiba-tiba terhempas keluar. Sisi lain pintu lift terbuka dan... Byurrr.... kami semua langsung basah. Nah foto di atas itu, bagian setelah kita keluar dari lift ini. Lalu kami kembali lagi ke tempat awal perjalanan ini dimulai. Wah... seru ternyata... terutama sensasi di bagian akhir. Untunglah kami memakai wet coat. Kalau tidak, akan basah kuyup. Wet coat ukuran dewasa yang kami pakai selanjutnya kami berikan ke pengunjung lain yang akan memasuki wahana ini. Kami memberikannya kepada orang Indonesia juga. 

Setelah arum jeram, saya bilang ke mama ingin naik wahana "Canopy Flyer", yang masih terdapat di kawasan The Lost World. Awalnya saya ajak mama tapi mama kali ini tidak berani dan lebih memilih menunggu dengan duduk-duduk di tempat-tempat duduk yang tersedia di dekat wahana ini. Apa itu "Canopy Flyer"? "Enjoy a prehistoric bird's-eye view as you soar over Jurassic Park". Nah kalo mau tau seperti apa, bisa dilihat di foto saya paling atas yang bersama 2 dinosaurus. Nah, di dekat tulisan "Jurassic Park" ada semacam rel-rel. Nah rel itulah yang saya lewati. Kendaraannya berupa dua pasang tempat duduk yang saling membelakangi yang tergantung di rel-rel tersebut. Nah... ketinggian inilah yang membuat mama saya kurang berani. 

Setelah antri selama hampir satu jam, tibalah giliran saya menaiki wahana ini. Di sebelah saya saat menaiki wahana ini adalah seorang bapak yang sudah cukup tua. Dari wajahnya sepertinya orang Indonesia dan entah mengapa saya merasa pernah lihatnya tapi entah di mana. Saya tidak bertanya pada bapak itu, saya cuek saja naik terus teriak-teriak selama menikmati wahana. Yaa... rasanya seperti terbang... Seruuu!!! Benar seperti penjelasan di studio guide. Saya merasa seperti burung purba yang terbang mengelilingi Taman Jurassic. Keluar dari wahana, saya mendatangi mama. Ternyata bapak yang di sebelah tadi mendatangi (sepertinya sih) istrinya yang duduk di sebelah mama. Eh... si mama kok pas lihat bapak itu, bisik-bisik ke saya " Itu Mantan Menteri Pertanian. Aduh mama lupa namanya". Yaa... mama saya pensiunan PNS Departemen Pertanian. Hingga kami meninggalkan bapak tersebut, mama belum dapat mengingat namanya. Jadi, kami hanya tersenyum saja pada Bapak itu dan dia dengan ramah membalasnya. Barulah setelah jauh meninggalkan Bapak itu mama ingat. Bapak itu adalah Bapak Anton Apriyantono, Menteri Pertanian pada Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2004-2009. Wah... jujur saya salut dengan bapak itu. Low profile sekali. Dia antri seperti pengunjung lain dan tersenyum pada orang yang senyum sama dia, ditambah saya salut juga dengan jiwa petualangannya mencoba wahana-wahana sedikit ekstrim.

Kami terus berjalan hingga memasuki kawasan Ancient Egypt. Kalau kawasan ini, temanya diambil dari film The Mummy Returns yang dibintangi oleh pegulat WWF, The Rock. Wah... rasanya seperti di Mesir. Disambut dengan patung-patung raksasa berbadan manusia dan berkepala anjing (duhh... kok kombinasinya jelek banget yah).

Kawasan Ancient Egypt
Nah di kawasan ini, wahana pertama yang kami naiki adalah " Treasure Hunters" : " Children can drive their own desert jeep through an abandoned Egyptian excavation site. Yaa... pengunjung wahana ini sebagian keluarga dengan anak-anak kecil. Ah... tapi kami kan ga mau rugi. Mau mencoba wahana apa saja yang memungkinkan khususnya yang bisa saya nikmati bersama mama. Pada wahana ini, pengunjung akan menaiki semacam mobil jeep yang berjalan di atas rel khusus melintasi situs purbakala di Mesir. Di kanan kiri awalnya dijumpai tiruan kudanil yang tiba-tiba muncul dari kolam lalu masuk lagi, tiruan ular-ular kobra, tiruan macan kumbang, tiruan buaya yang sedang berendam di sungai, semuanya lengkap dengan suara-suara tiruannya. Lalu melewati situs purbakala yang semuanya sudah dikerubungi oleh sangat banyak serangga semacam kecoa seperti di film The Mummy Returns. Yaa... semuanya itu ditempuh dalam waktu lebih kurang 10 menit.

Wahana "Treasure Hunters"
Selanjutnya saya ingin mencoba wahana "Revenge of the Mummy" : "Plunge into total darkness on this indoor roller coaster as you come face to face with warrior mummies and scarab beetles". Di pintu masuknya, petugas sudah berteriak-teriak "high speed roller coaster!". Jadi, kali ini hanya saya yang naik. Mama lagi-lagi menunggu. Tapi, kali ini mama tidak perlu menunggu saya terlalu lama. Kok bisa? Nah... karena saya sendiri, jadi saya dipersilahkan oleh petugas di pintu masuk untuk masuk di antrian single rider. Antrian ini ditujukan untuk pengunjung yang hanya sendiri saja. Keuntungan dari antrian ini, antrian lebih pendek dan kita dapat naik wahana jika misalkan dalam satu barisan, dari antrian biasa, yang umumnya berombongan, menyisakan satu tempat kosong. Nah, di sinilah para single rider masuk. Jadi, lebih cepat naik. 

Di depan Pintu Masuk Wahana "Revenge of The Mummy"

Wah... jujur saja... karena antriannya sepi, jalurnya panjang, sedikit gelap, dan di kanan kiri bernuansa situs purbakala Mesir, saya merasa agak merinding. Baru lega setelah bertemu pengunjung lain yang telah ramai berkumpul di ujung antrian. Tidak perlu antri, saya langsung dapat giliran naik karena ada satu kursi tersisa dalam satu baris. Yak.. saya duduk paling pinggir. Satu kereta terdiri dari 4 baris dengan masing-masing baris terdiri dari 4 orang. Saya duduk di barisan kedua. Masuklah kami ke lorong gelap, lalu mulailah suara-suara menakutkan... Di kanan kiri terdapat mumi-mumi yang mengerikan. Lalu tiba-tiba kereta kami berjalan sangat cepat. Yaa... namanya juga roller coaster. Sempat perlahan tapi kemudian cepat lagi. Duh... di wahana ini, saya ngeri deh tapi bukan sama roller coasternya, suara-suara dan replika mumi itu loh, saya takut melihatnya. Rasanya seperti di rumah hantu tapi bedanya naiknya roller coaster. Akhirnya, saya banyak memejamkan mata. Ada sekitar 10 menit di dalam wahana ini. Saya langsung keluar mencari mama. 

Ketika saya bertemu dengan mama kembali, mama menyuruh saya untuk ikut mengantri untuk berfoto dengan orang-orang yang berdandan ala orang Mesir kuno seperti di film The Mummy Returns. Nah... ini salah satu bentuk pelayanan unik di USSR yang belum saya jumpai di taman bermain yang ada di Indonesia  yang saya tahu yaitu disediakan kesempatan untuk berfoto dengan karakter-karakter tokoh-tokoh atau badut. Tidak hanya disediakan badutnya saja, tapi ada petugas yang siap untuk mengambilkan foto kita. Jadi, jika pergi berombongan, semua bisa dapat difoto, dan jika pergi sendiri, kita dapat berfoto juga (tentunya selain dengan gaya bersusah payah dengan tangan sebelah memegang kamera). Semua ini gratis..tis..tis.. Dan... inilah beberapa foto saya dan mama selama di Universal Studio Singapore yang memanfaatkan pelayanan ini. 

Saya dan mama beserta tokoh-tokoh film The Mummy Returns

Salut sama 2 orang Penari ini (di Kawasan Sci-Fi City)

Berfoto sama Bumblebee, paling panjang antriannya... 

Akhirnya... Kesempatan berfoto bersama Po Kung Fu Panda

Bersama Karakter Film Woody Woodpecker 

Oh iya, kalau dilihat di peta, di USSR juga disediakan prayer room di kawasan Ancient Egypt. Akan tetapi, kami tidak menemukannya, akhirnya kami putuskan sholatnya nanti dijamak saja di penginapan :P

Selanjutnya, kami kembali memasuki Kawasan Sci-Fi City. Di sinilah saya uji adrenalin saya untuk terakhir kalinya yaitu dengan menaiki wahana "Battlestar Galactica : HUMAN" : "Zooming at speeds 82.8 km/h, this seated roller coaster narrowly avoids collisions as it twists, turns, and propels you over 14 storeys into the air". Yak...ini adalah roller coaster  super cepat. Eits.. tapi tunggu dulu... Ada 2 roller coaster super cepat di wahana ini. Akan tetapi, saya tidak naiki yang satunya, yaitu "Battlestar Galactica : CYLON" : "This suspended roller coaster goes up, around, and upside down with an intense corksrew and a cobra roll". Kedua wahana ini mempunyai pintu masuk dan jalur antrian terpisah, tapi... jalur tempat kereta super cepat ini lewat di satu tempat. Maksud saya, jalurnya di satu tempat, tapi terpisah, hanya saja antara satu jalur dengan yang lain saling bersilang-silang. 

The Blue Track : "Battlestar Galactica : CYLON", The Red Track : "Battlestar Galactica : HUMAN"
Sementara mama menunggu, saya masuk ke wahana Battlestar Galactica : HUMAN. Wah... di depan pintu masuk terpasang pengumuman antrian hanya 10 menit. Memang benar... antriannya hanya sebentar... Apalagi saya sendiri, di kereta yang sebarisnya terdiri dari 4 orang, pas ada satu baris yang baru terisi 3 orang, sayalah masuk untuk mencukupkan jadi 4. Wah... sejak awal berangkat, kereta sudah berjalan sangat cepat. Di jalur sebelahnya, kereta dari wahana Battlestar Galactica : CYLON pun berangkat. Keduanya seperti berpacu. Saya yang di bagian "HUMAN", rasanya whii... benar-benar memacu adrenalin. Kereta berpacu sangat cepat, tikungan-tikungan sangat tajam, juga naik dan turun. Saya dan 3 anak remaja bule yang sebaris dengan saya, berteriak-teriak sepanjang permainan... Semua berjalan sangat cepat dengan durasi sekitar 2 menit. Huffh.... Mantap deh...

Setelah turun dari wahana ini, saya kembali menghampiri mama. Mama mengajak kami menaiki wahana "Accelerator" : "Test your intergalactic stamina on this whirling twirling attraction". Ini merupakan wahana terakhir yang kami naiki. Wahana ini mirip wahana pontang panting di Dufan. Pengunjung masuk ke kendaraan kecil yang maksimal terdiri dari 4 orang tapi karena wahana ini sepi, sebagian besar kendaraan hanya terisi 2 orang. Lalu kendaraan kami diputar-putar secara horisontal dengan kecepatan cukup tinggi. Lumayan lah...

Banner "Sci-Fi City" from LEDs
Total saya naik 10 wahana, sementara mama naik 7 wahana. Setelah melewati kawasan Sci-Fi City, kami kembali memasuki kawasan Hollywood dan New York. Di sini, kami sempat keluar masuk beberapa toko merchandise. Wah.. lucu-lucu... tapi mahal. Akhirnya sekitar jam 16.30 sore, kami meninggalkan Universal Studio Singapore. Di pintu keluar, kami ditanya oleh petugas "Coming Back?"... Kami jawab "No". Rupanya, pengunjung dapat keluar sebentar dari Universal Studio, lalu masuk lagi pada hari yang sama, asalkan pada saat keluar dibubuhkan cap di tangannya. 

Salah satu merchandise unik : Replika Piala Oscar

Pertunjukkan di Kawasan Hollywood

Big Yellow "New York" Taxi
Kami menempuh perjalanan pulang sama seperti ketika berangkat. Di stasiun Somerset, tempat kami turun, kami sempat mampir ke KFC yang ada di mal di atas stasiun. Awalnya, mau cari paket nasi ayam. Ternyata, tidak menjual nasi. Jadinya, kami beli paket kentang dan burger. Lanjut berjalan ke penginapan. Dan... akhirnya kami kembali beristirahat untuk besoknya kami menikmati hari terakhir kami berjalan-jalan di Singapura.

Bye...Bye... Universal Studio Singapore...


Minggu, 10 Juni 2012

Singapore Trip : A Day in Universal Studio Singapore #1

Hari kedua di Singapore, kami berangkat dari penginapan sekitar jam 8 pagi. Karena dari malam sampai paginya diare, mama masih lemas, tapi tetap semangat jalan. Sebelum berangkat, kami melunasi terlebih dahulu biaya hotel hingga kami check out  tanggal 21 Mei 2012. Penginapan ini cukup baik dan prasangka jelek kami pun sudah hilang. Terlebih setelah melihat ada sekelompok orang Indonesia yang juga menginap di sini. Seperti kemaren, sambil di jalan menuju stasiun, kami mampir di sevel untuk beli air mineral kemasan botol. Karena mama ingin minum teh hangat, kami pun mampir di sebuah gerai Kun Kaya Toast (kalau tidak salah ingat namanya) untuk sarapan minum teh hangat manis dan roti bakar yang terletak di mal di atas stasiun MRT Somerset. Setelah sarapan, kami langsung menuju Universal Studio Singapore. 

Dari Stasiun Somerset, tujuan kami adalah ke stasiun Harbour Front, dengan transit sekali di stasiun Dhobu Ghaut. Sampai di stasiun Harbour Front, kami naik ke lantai teratas dari Vivo City, yaitu mal yang terletak di atas stasiun Harbour Front. Dari lantai teratas Vivo City ini, kami naik sky train untuk menyebrang menuju Resort World Sentosa. Harga tiket sky train S$ 3 per orang untuk PP. Sekitar 5 menit naik sky train, kami turun di pemberhentian pertama sky train di Resort World Sentosa dan di sinilah terletak Universal Studio Singapore (USSR). Petunjuk arahnya sangat jelas untuk menuju USSR. 

Menuju USSR
Sekitar jam 9 pagi, kami sudah sampai di depan bola dunia yang terkenal itu, tentunya berfoto dengannya. 

Mama di depan USSR Globe
Pengunjung sudah ramai. Kami lalu menuju loket pembelian tiket yang cukup banyak sehingga kami tidak perlu mengantri. Karena kami datang hari Sabtu (saat weekend) harga tiket per orang dewasa S$ 74. USSR buka jam 10.00, tetapi antriannya sudah panjang sekali. Saat kami mengantri, ada Po (Kung Fu Panda) menghampiri pengunjung. Sayangnya kami di antrian bagian tengah sehingga tidak bisa ikut berfoto dengannya. 

Antrian Menunggu Pintu Masuk dibuka
The Ticket

Po Mendatangi Pengunjung yang Sedang Mengantri Menunggu Pintu Masuk Dibuka

Tidak sampai jam 10.00, pintu masuk dibuka. Pintu masuknya banyak sehingga tidak terlalu lama kami mengantri. Akhirnya kami masuk ke dalam USSR. Karena kami belum memegang "STUDIO GUIDE" atau peta USSR, maka kami mengikuti saja banyak pengunjung ke mana. Sambil berfoto dengan banyak obyek menarik seperti di film-film Hollywood di Kawasan Hollywood (ya..iya lah..)

Berpose di samping Mobil Polisi



Saya mendengar sekilas suara beberapa orang berlari-lari, yak... orang Indonesia... mereka bilang menuju ke wahana Transformers The Ride... Wah... ini salah satu wahana yang menjadi incaran saya. Tanpa ragu, saya langsung mengajak mama masuk. Apa itu wahana Transformers The Ride... Nah ini penjelasannya, saya kutip dari "STUDIO GUIDE" yang kemudian saya dapat di kawasan Madagascar.

"Transformers The Ride : The Ultimate 3D Battle, Join Optimus Prime and the AUTOBOTS as you become a freedom fighter in the ultimate 3D battle againts the forces of evil"

Pimtu Masuk Transformers The Ride

Berbagai Properti di Film Transformers
Ketika memasuki wahana ini, di jalur antrian, di kanan kirinya, dipajang beberapa properti dari film Transformers. Keren! Antrian belum begitu panjang dan kami tidak perlu menunggu lama untuk kemudian menaiki semacam kereta terdiri dari 4 baris dengan masing-masing baris terdiri dari 4 orang. Kami duduk di barisan paling belakang. Oiya, sebelum naik, kami sudah mengenakan kacamata 3D kami masing-masing yang dibagikan di pintu masuk wahana ini. Masuklah kami ke dalam suatu medan peperangan antara Autobots dan Decepticons. Kendaraan kami diombang-ambing, naik turun, kadang sangat cepat, kadang sedikit pelan. Kadang kami mendapat ancaman dari Megatron dkk tapi lalu diselamatkan oleh Optimus Prime dkk. Menabrak gedung-gedung, terbang di udara, menghindar dari peluru-peluru musuh. Hingga di bagian akhir, kendaraan kami dijatuhkan dari gedung bertingkat. Ketika kendaraan kami hampir menabrak jalan di bawah, kendaraan kami ditangkap oleh Bumblebee. Wah... rasanya benar-benar mendebarkan apalagi kami di barisan paling belakang. Saya sempat khawatir dengan mama. Alhamdulillah.. tidak apa-apa dan beliau cukup menikmati. Setelah sekitar 10 menit, akhirnya kendaraan kami kembali ke tempat awal kami berangkat. Sebelum keluar wahana, kami meletakkan kacamata 3D di tempat yang telah disediakan. Ternyata keluar wahana ini, pengunjung diarahkan ke ruang penjualan souvenir. Whuaa... unik-unik, souvenirnya tapi harganya lumayan tidak murah yah :p  Sebagian besar bertema Transformers. Kami membeli satu buah miniatur bola dunia seperti di depan pintu masuk USSR. Harganya sekitar S$21. Keluar dari wahana Transformers, saya sempat berfoto dengan salah satu patung robot dan mobil Chevrolet Camaro Bumblebee.

Ada yang tau namanya robot ini? Optimus Prime bukan sih?

Sambil berkhayal... Suatu Saat Nanti Punya Mobil Model Begini... Amiiinnn :D
Selanjutnya kami berjalan menuju kawasan Madagascar. Oiya, kawasan tempat wahana Transformers tadi adalah kawasan Sci-Fi City. Di Kawasan Sci-Fi City ada 3 wahana lain yaitu 2 buah roller coaster supercepat dan sebuah wahana accelerator. Akan tetapi, karena jantung masih berdebar-debar selepas naik wahana Transformers, kami memutuskan mencari wahana yang rileks dahulu. Biar yang ini, nanti paling terakhir saja. Maka masuklah kami ke kawasan Madagascar. Yup... nuansanya seperti di film Madagascar. Di sinilah kami mendapatkan Studio Guide dari seorang petugas yang berdiri membagi-bagikannya di salah satu wahana.

Di Madagascar ini kami naik wahana "King Juliens's Beach Party-Go-Round". Penjelasan pada studio guide: "Ride this crazy carousel with King Julien, the Lemurs and more of your favourite Madagascar characters". Jadi, intinya berupa komidi putar yang terdiri dari karakter-katakter dari film Madagascar. Agak konyol sih rasanya naik ini, yang dominan dinaiki oleh anak-anak, tapi gapapa lah buat rileks. 

wahana "King Juliens's Beach Party-Go-Round"

Selesai naik komidi putar itu, wah... ada keramaian di luar. Ternyata sedang ada pertunjukkan badut-badut karakter film Madagascar sedang berjoged-joged diiringi lagu "I like to move it" yang merupakan OST film Madagascar. Ah... mereka begitu menggemaskan.

I Like to Move it...Move it..
Lanjut kami berjalan memasuki kawasan Far Far Away. Yup...kawasan ini terinspirasi dari film Shrek. Di sini, wahana pertama yang kami naiki adalah "Enchanter Airways". Penjelasan pada studio guide yaitu "Climb aboard this junior roller coaster for a flight over Far Far Away". Karena berupa roller coaster, saya bertanya sama mama, mau ikut naik atau tidak. Setelah melihat roller coaster nya tidak ada jungkir baliknya. Mama mau ikut. Wah.... ternyata antrian sudah mulai padat. Maklum hari sudah semakin siang, jadi pengunjung makin ramai. Setelah sekitar 30 menit antri, kami dapat giliran. Dan... meluncurlah kami dengan kecepatan yang cukup tinggi. Wah ternyata tidak bisa disepelekan roller coaster yang satu ini. Jauh lebih cepat dari roller coaster mini yang ada di Dufan Jakarta. Ketika tikungan tajam, lumayan dibuat mendebarkan jantung kita. Seru!!... Saya dan mama menikmati wahana roller coaster yang lamanya sekitar 3 menit ini. 

Selanjutnya, masih di kawasan Far Far Away. Kami masuk ke wahana "Shrek 4-D Adventure" : "see, hear, and FEEL the action right from your seat as you join Princess Fiona & Shrek in a fairytale adventure". Kami berada di kawasan ini pada waktu yang tepat yaitu saat pertunjukkan akan dimulai sehingga tidak lama mengantri langsung masuk. Awalnya sempat bingung dengan wahana ini karena setelah kami masuk, melewati antrian lalu dibagikan kacamata 3-D, seluruh pengunjung yang jumlahnya lebih dari 100 orang dikumpulkan di satu ruangan besar yang gelap. Di ruangan itu, ada seorang petugas yang menceritakan awal dari kisah Shrek. Selain itu, terdapat 4 buah kotak tergantung yang berisi karakter kartun, salah satunya pinokio. Sepertinya mereka sedang disekap. Petugas itu meminta kami untuk tidak memakai kacamata 3-D terlebih dahulu dan mengatakan pengunjung baru dapat menggunakannya bila sudah masuk ke ruangan pertunjukkan yang pintunya di belakang petugas tersebut. Tidak lama di sudut depan kanan dan kiri ruangan, muncul layar berbentuk cermin lonjong. Nah di situlah ditampilkan cuplikan Film Shrek 1. Ada sekitar 30 menit kami berada di ruangan itu. 

Bagian Awal di Wahana Shrek 4-D Adventure

Saya dan Mama di Dalam Gedung Pertunjukkan
Selesai cuplikan Film Shrek 1, kami masuk ke ruangan pertunjukkan yang berisi ratusan kursi berwarna merah seperti kursi di bioskop dan sudah terpampang layar merah di depannya. Setelah semua pengunjung masuk, dimulailah pertunjukkan. Kursi kami perlahan dinaikkan. Dan... mulailah film Shrek (yang ke-2 sepertinya... saya tidak tahu karena saya belum pernah nonton Shrek 2... hehe)... Di sini diceritakan Putri Fiona diculik oleh arwah Pangeran yang tidak jadi dinikahinya. Shrek dan keledai temannya berusaha menyelamatkannya. Buat saya, ini pengalaman pertama saya menyaksikan tayangan 4-D. Cukup seru dan mengasyikan. Kami terkena percikan air dan kursi turut bergoyang disesuaikan dengan kejadian pada film. Selain itu, tokoh-tokohnya serasa sangat nyata dan dekat. Pertunjukkan berlangsung sekitar 40 menit. Keluar ruangan pertunjukkan, (lagi-lagi) kami diarahkan ke tempat penjualan souvenir. Kali ini sebagian besar souvenir bertema film Shrek. Kami tidak membeli apa-apa di sini.

Selanjutnya waktu sudah pukul 11.30 siang, maka kami putuskan makan siang. Kami makan siang di Discovery Food Court yang berada di Kawasan The Lost World. Yup... sesuai dengan namanya, kawasan ini terinspirasi dari film The Lost World. Yang saya sukai dari USSR ini adalah hampir semua restorannya memasang logo Halal dari Majelis Ulama Singapura. Jadi, bisa tenang makan di sini. Penjelasan "Discovery Food Court" pada studio guide: "Features Singapore's "must try" favourite local dishes, desserts and drinks in a Jurassic setting". Tadinya kami mau memesan ayam penyet khas Indonesia, tapi rupanya belum tersedia. Jadinya, kami memesan menu yang saat itu ada yaitu set nasi dengan irisan ayam dan sayur tumis toge plus bubur kacang ijo. Agak mengejutkan tambahan bubur kacang ijo ini. Awalnya kami mengira ini kuah kaldu berwarna keruh. Ketika menyendoknya, barulah terlihat butir-butir kacang ijo. Harga 2 porsi menu ini plus satu botol air mineral yaitu S$23. Mahal yah tapi rasanya standar banget. Meskipun demikian tetap saya makan sehingga hampir 3/4 porsi habis. 

Menu Makan Siang Kami... Nah yang di Mangkok itu Bubur Kacang Ijo
Yang unik dari restoran ini adalah di dalamnya terdapat replika kerangka T-Rex dan Pterodactyl. Selesai makan siang kami melanjutkan petualangan kami di USSR. 

Kerangka T-Rex di Dalam Discovery Food Court

Kerangka Pterodactyl di Dalam Discovery Food Court

Untuk petualangan setelah makan siang, saya akan ceritakan di cerita berikutnya.







Sabtu, 09 Juni 2012

Singapore Trip : The Beginning

Lagi-lagi terjadi, semalaman sebelum mau berangkat saya hampir tidak tidur karena berangkat pesawat jam 05.40 pagi. Kali ini saya dan mama berencana untuk berangkat dari rumah sekitar jam 02.30 dini hari dengan pertimbangan ini penerbangan internasional yang biasanya waktu terakhir check-in nya lebih awal. Kami sampai di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta kurang dari jam 03.30 pagi. Ini adalah pengalaman pertama kali kami di Terminal 3, khusus bagi saya ini penerbangan pertama saya dengan Air Asia (AA)...eh nyebut merk :P Wah... baru jam segini, bandara sudah mulai ramai saja. Saat di pintu masuk, seperti biasa, menunjukkan tiket ke petugas bandara, dan kami langsung mencari tempat untuk check-in. Nah di Terminal 3 ini terdapat dua jenis check-in counter yang pertama untuk domestik dan satunya untuk internasional. Keduanya tertulis check-in untuk penumpang dengan bagasi. Di bagian domestik, sudah panjang antrian untuk check-in. Akan tetapi... jeenggg... kosong aja gitu di yang internasional, tidak ada petugas, juga tidak ada calon penumpang yang mengantri. Tapi tidak lama kemudian, ada seorang bapak yang menggunakan baju terdapat logo AA muncul di counter, langsung saya tanya untuk check-in international dan dia menunjukkan ke arah mesin check-in yang ada di seberang counter ini untuk check-in tanpa bagasi. Langsung deh saya ke mesin berbentuk mirip mesin ATM itu dan men-check-in-kan untuk saya dan mama. Hahaha... ndeso deh...Walaupun sudah berkali-kali naik pesawat, tapi baru kali ini saya check-in lewat mesin seperti ini. Proses check-in selesai, kami dapat nomor bangku kami masing-masing yang terpisah, namun masih di lima barisan depan.

Selesai check-in, kami langsung berjalan masuk ke sisi kiri dari gedung terminal mengikuti petunjuk untuk mencari ruang tunggu sambil berpikir bagaimana kami membayar pajak bandara. Naik ke lantai 2, lalu kami sampai di depan counter imigrasi yang terletak sebelum ruang tunggu (ya...iyalah....) wah belum ada petugas, jadi kami hanya berdiri saja di tempat antrian sebelum counter imigrasi itu. Penumpang lain, kami lihat, masih santai-santai duduk-duduk di kafe-kafe sebelum counter ini. Perlahan... satu per satu penumpang ikut mengantri di belakang kami. Hingga kemudian mama berbisik pada saya dan bilang bahwa ibu-ibu di belakang kami di belakang print-out boarding pass nya ada tanda pembayaran pajak bandara. Langsunglah mama saya bertanya di mana membayar pajak bandara dan jawabannya benar-benar mengejutkan kami, "itu di sebelah mesin check-in, ada mbak-mbak AA yang duduk untuk pembayaran airport tax". Setelah berterima kasih, langsung kami keluar dari antrian. Sementara mama menunggu tidak jauh dari tempat antrian, saya berjalan cepat kembali ke mesin check-in tadi yang mana saya harus keluar dulu gedung Terminal untuk masuk lagi. Huffhh... benar-benar tak habis pikir, kami berdua sama sekali tidak melihat si mbak-mbak itu. Dalam hati, saya bersyukur karena kami sampai bandara tidak mepet waktu keberangkatan jadi ada accident macam ini tidak mengacaukan keberangkatan kami. Akhirnya saya sampai di meja pembayaran pajak bandara yang memang terletak persis di sebelah mesin check in. Memang di situ ada beberapa mesin check in, kami  tadi check in di mesin paling ujung kanan, sementara meja pembayaran pajak bandara di sebelah mesin paling ujung kiri (hehe.. ngalesan aja yah :P)

Selesai check-in, saya kembali ke tempat mama menunggu dan ternyata antrian sudah lumayan ramai. Akhirnya, sekitar jam 4, datanglah petugas imigrasi. Tidak lama mengantri, kami selesai urusan imigrasi dan masuk ke ruang tunggu. Oiya, sejak masuk ke Terminal 3 ini, saya kagum dengan arsitekturnya yang modern, dengan nuansa kaca dan besi serta plafonnya yang melengkung tinggi, mengingatkan saya akan Bandara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar. Untuk ruang tunggu Terminal 3 ini juga bagus, full karpet, bersih dan tempat duduknya nyaman. Uniknya ruang tunggunya tidak disekat-sekat atau dalam ruangan yang berbeda untuk tiap gate.

Ruang Tunggu Terminal 3 Penerbangan Internasional Bandara Soetta

Masuk waktu shubuh, saya dan mama bergantian sholat shubuh di ruang sholat di ujung ruang tunggu. Sayang ruang sholatnya kecil. Saya kecewa kenapa yah padahal sudah jelas penduduk Indonesia sebagian besar Muslim tapi kok ya di tempat-tempat umum masih banyak yang tidak menyediakan ruang sholat yang memadai. Tidak lama selesai sholat, sekitar pukul 05.15, panggilan untuk boarding. Karena kami dapat kursi lima baris terdepan, maka kami dapat masuk terlebih dahulu. Tepat pukul 05.40, pesawat kami pun lepas landas menuju Singapura...dan... saya pun kembali tidur. Huffhh... tapi sayang, baru sebentar tidur, sudah harus bangun karena untuk mengisi form imigrasi Singapura. Langsung cepat-cepat saya isi punya saya dan mama, untuk selanjutnya tidur lagi... Hehehe...

Ah...rasanya belum lama saya tertidur hingga terdengar suara pramugari menyampaikan sekitar 20 menit lagi akan mendarat di Bandara Internasional Changi Singapura. Setelah penerbangan sekitar 1 jam 40 menit, sampailah kami di Changi. Wah ternyata, Bandara Changi itu biasa aja yah. Arsitekturnya menurut saya tempo doeloe ... ya wajar sih... ini kan bandara sudah lama juga. Akan tetapi, full karpet dan bersih. AA mendarat di Terminal 1 Bandara Internasional Changi. Untuk naik MRT ke pusat kota, kami harus naik sky train ke Terminal 2. Petunjuk-petunjuk yang ada cukup jelas mengarahkan kami ke tempat untuk menunggu sky train. Awalnya, saya dan mama sempat ragu karena hanya kami dan 2 pasang bule yang menunggu di situ. Akan tetapi, saya yakin karena sudah mengikuti petunjuk yang jelas dan saya sudah sempat mencari di Youtube, video untuk naik MRT.

Tidak lama kami menunggu, datang kereta yang mengantar kami menuju Terminal 2, dan dengan mengikuti petunjuk arah, kami menuju ke stasiun MRT yang terletak di basement. Sampainya di stasiun, kami melihat ada loket dengan seorang petugas, saya kemudian menuju loket itu untuk beli tiket ke stasiun Somerset dan petugas itu kemudian memberi tahu saya untuk membelinya di mesin yang terletak di sudut stasiun di belakang eskalator.  Sayangnya, uang S$ yang saya punya paling kecil kelipatan 50 padahal harga satu tiket ke stasiun Somerset sekitar S$ 4 dan, dari keterangan yang saya baca di mesin, uang kembalian yang dapat dikeluarkan mesin paling banyak S$4, maka saya kembali ke loket tadi untuk menukar uang dengan pecahan yang lebih kecil dan petugas yang baik hati itu memberikannya. Yang lucunya, saya awalnya bicara dalam bahasa Inggris karena si bapak petugas itu berwajah Chinese, eh si bapak petugas itu menjawab dengan bahasa Melayu. Kejadian seperti ini banyak terulang selama saya di sini.

Tidak perlu menunggu lama, kereta kami tiba dan kami pun masuk. Untuk sampai di stasiun Somerset, kami harus transit dua kali di Tanah Merah dan City Hall. Ah.... semua begitu mudah dengan adanya peta MRT di Iphone saya. Akhirnya setelah sekitar 40 menit termasuk transit, kami sampai di stasiun Somerset dan kemudian kami berjalan keluar. Saya sempat ragu ketika membaca petunjuk, mau keluar di Somerset/Orchard atau di Somerset/Exter. Akhirnya kami keluar di Somerset/Orchard. Saya dan mama mulai berjalan mengikuti peta yang saya cetak dari website Lloyd's Inn....dan ternyata... kami sepertinya nyasar :D Akhirnya saya mulai bertanya ke seorang ibu yang duduk di halte bus, dia tidak tahu Lloyd Rd.,tempat hotel itu, karena itu bukan jalan besar. Sambil saya menyeret koper kecil saya (sebenarnya koper ini model backpack juga tapi berat euy kalau harus digendong :p) dan mama menenteng tas baju kecilnya, kami kemudian bertanya kepada seorang bapak petugas kebersihan, dia menunjukkan untuk saya lurus menyusuri Orchard Rd. kemudian belok kanan. Dengan masih bingung-bingung, kami mengikutinya... wah kami baru sadar kami salah belok karena belum juga menemukan jalan itu. Saya dan mama sebenarnya berharap ada polisi di pinggir jalan yang bisa kami tanyai, tapi (ajaibnya) tidak ada satupun bahkan selama kami di Singapura, kami tidak pernah menemukan polisi di pinggir-pinggir jalan seperti di Jakarta. Kemudian, saya bertanya pada seorang ibu yang berdiri di sebuah perempatan jalan dekat Orchard Central. Dia juga tidak tahu tapi dia menyarankan kami untuk bertanya ke Kantor Pos yang ada di dekat situ. Saya pun masuk ke kantor pos dan bertanya. Kemudian seorang mbak-mbak di belakang meja pelayanan kantor pos menunjukkan bahwa kami harus berbalik arah, kemudian jalan lurus, hingga menemukan marka nama jalan Lloyd Rd. Mama sudah mulai komplain ke saya karena di Jakarta, saya bilang penginapannya dekat dari stasiun, ini sudah muter-muter jalan lebih dari 30 menit belum ketemu juga. Huffhh... Alhamdulillah, setelah lewat gedung Singtel, saya menemukan marka nama jalan bertuliskan Lloyd Rd. Kami belok kiri, wah ternyata di awal jalan itu nomor 40an, padahal penginapan kami nomor 2. Mama kembali komplain, tapi untungnya ternyata hanya sekitar 100 meter. Melihat penginapannya yang sederhana karena hanya tingkat dua, Mama sempat curiga, jangan-jangan ini penginapan yang "enggak-enggak". Meja resepsionisnya pun biasa saja.

Saat kami masuk penginapan, saat itu sekitar pukul 10.30 waktu Singapura (waktu Singapura lebih cepat 1 jam daripada Jakarta). Saya langsung bilang ke bapak yang di meja resepsionis, kalau saya sudah booking lewat email dan sudah menerima email konfirmasi dari Lloyd's Inn. Bapak tersebut langsung melihat tumpukan kertas booking-an di depan saya. Sempat deg-degan kalau-kalau booking-an saya tidak tercatat, akhirnya lega karena ada di kertas di tumpukan paling bawah. Bapak itu bilang baru boleh check in jam 12. Dia menawarkan kami untuk meninggalkan tas kami di dekat resepsionis yang memang di situ telah terdapat banyak koper berjejer, tetapi kami memutuskan untuk menunggu saja di lobi penginapan yang sangat sederhana itu, karena hanya ruangan kecil dengan ada dua sofa single dan dua sofa double, karena kami khawatir dengan keamanan tas kami yang tidak digembok seperti koper-koper lain yang ditinggalkan pemiliknya.Ketika kami menunggu, datanglah 4 orang turis sepertinya dari China. Mereka hanya sebentar kemudian meninggalkan kopernya. Entah karena iba melihat kami menunggu atau karena kamarnya memang sudah siap, kami dapat check in sekitar pukul 11.00, saya kemudian membayar untuk satu malam dulu karena sepertinya kami, khususnya mama, masih ragu dengan penginapan ini.

Setelah mendapat kunci, kami masuk ke kamar. Wah kamarnya cukup luas, bersih, kamar mandi di dalam (dengan air hangat, toilet duduk, ada bath tub, ada handuk bersih plus toilet kit), tempat tidur ukuran queen, ber-AC, ada lemari plus beberapa gantungan baju, ada TV (hanya menayangkan satu channel stasiun TV lokal tapi beberapa acaranya mirip dengan TV berbayar di Indonesia serta berbahasa Inggris), ada meja rias plus kursi, ada lampu meja di kanan dan kiri kepala tempat tidur, ada water heater. Sayangnya tidak disediakan air mineral dalam botol dan aneka teh atau kopi sachet seperti di hotel umumnya. Intinya, saya cukup puas dengan kamar yang kami dapat. Setelah meletakkan barang-barang, kami langsung bersiap untuk memulai "petualangan" kami di Singapura.

Ke mana saja kami di hari pertama kami di Singapura, saya lanjutkan di cerita berikut yah :)


Sabtu, 02 Juni 2012

Singapore Trip : Preparation

Setelah beristirahat di Jakarta selama beberapa hari, saya dan mama kembali melanjutkan liburan kami. Kali ini tujuannya ke Singapura. Berangkat tanggal 18 Mei 2012 dan kembali ke Jakarta tanggal 21 Mei 2012. Berbeda dengan pulang kampung yang dadakan, liburan ke Singapura ini agak terencana karena saya sudah membeli tiketnya sekitar bulan Maret. Awalnya saya rencananya mau liburan sendiri, tapi mama kemudian ingin ikut juga, makanya sebulan kemudian, setelah saya mendapatkan penginapan, mama membeli tiket dengan pesawat dan jadwal yang sama dengan saya ke Singapura. Tentu harganya lebih mahal daripada saya :P

Untuk penginapan, saya sempat mengecek agoda dan ternyata benar kata banyak orang, hotel di Singapura itu mahal. Ya iyalah, saya (awalnya) pengennya cari yang bukan tipe dorm, dengan kamar mandi di dalam, dekat dengan stasiun MRT, mudah cari makan tapi harganya pengen sekitar 30 USD. Selain itu, kendala saya tidak dapat booking lewat agoda karena saya tidak punya kartu kredit. Hehehe...soal belum punya kartu kredit sampai sekarang, ini memang pilihan saya, bisa jadi satu cerita sendiri nanti kalo dibahas. Oke.. lanjut ke cari-cari hotel. Teringat sama teman kuliah saya, Aini, yang kalau pulang kampung ya ke Singapura, maka bertanyalah saya lewat twitter. Tapi ya gitu, karena beliau biasa tinggal di tempat saudara jadi kurang tahu soal penginapan tapi Aini sempat bilang kalau yang ramai-ramai gitu biasanya sewa apartemen supaya jatuhnya lebih murah. Nah, kan saya (awalnya) mau sendiri atau cuma berdua sama mama. Jadi, saran ini tidak bisa saya pakai. Kemudian, Aini kasih info lagi yang dia dapat dari temannya, ada penginapan murah di sekitar Bugis Junction. Berbekal informasi itu langsunglah saya google dan dapatlah penginapan ini. Harganya sesuai target dan ternyata tidak cuma ada yang dorm tapi juga private room serta dekat dengan stasiun MRT dan banyak tempat makan...tapi kemudian saya baca poin ini "We only accept reservation using online payment via Paypal." Yah... saya tidak punya kartu kredit dan tidak paham pembayaran lewat Paypal itu bagaimana (kalau ada pembaca yang mau menjelaskan, terima kasih loh), maka usaha lagi.... cari-cari lagi.

Selanjutnya saya teringat sama website tripadvisor dan saya menemukan penginapan yang bernama Lloyd's Inn dan penginapan ini punya website : http://www.lloydinn.com/. Harganya memang dua kali dari target awal saya yakni S$ 90 (1 S$ = +- Rp 7500,-) per malamnya (termasuk pajak) untuk standard room tapi saya pikir, tidak ada salahnya saya mencoba booking karena dapat booking lewat web-nya dan tidak perlu bayar DP. Pas buat saya yang tidak punya kartu kredit. Hehe...Dari website-nya, dikatakan dekat dengan stasiun MRT Somerset, dekat dengan Somerset Rd dan Orchard Rd, jalan kaki cuma 5 menit ke Orchard Rd. Selain itu, kamar mandinya dalam. Dan.... besoknya, saya senang dapat balasan atas booking-an saya lewat email saya. Jadi, booking saya untuk tanggal 18-21 Mei 2012, sudah dikonfirmasi. Check-in paling cepat jam 12.00. Di website-nya juga terdapat peta lokasi penginapan, langsung saya print.

Selanjutnya... mau ngapain sih di Singapura? Target utama saya sebenarnya hanya 2 yaitu bermain di Universal Studio (yang pasti makan waktu seharian penuh) dan berfoto di depan patung ikan berkepala singa yang menjadi ikon negara Singapura yang ada di Merlion Park...hehe. Selebihnya yaa... jalan-jalan saja sambil cuci mata atau kalau ada yang pas, bolehlah dibeli. Selain itu, pengen merasakan bagaimana sistem transportasi massal di Singapura yang terkenal dengan MRT-nya yang buat Singapura bebas macet, tidak seperti Jakarta yang bahkan sampai sekarang masih merencanakan punya sistem transportasi massal. Sederhana yah itinary-nya. Harap maklum kalau rencananya sederhana sekali, ini baru kedua kalinya saya ke luar negeri. Yang pertama 5 tahun lalu ke Bangkok dan itu pun sebagian besar waktu saya habiskan untuk workshop. Selain itu, saya juga baru menyiapkan detilnya (selain tiket dan hotel) di hari-hari istirahat setelah pulang dari Padang dan sebelum berangkat ke Singapura.

Dengar dari cerita-cerita orang bahwa jalan-jalan ke Singapura itu mudah karena petunjuknya banyak dan hampir semua tempat bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari stasiun MRT terdekat, maka sebagai bekal utama saya carilah peta jalur MRT di Singapura, saya print dan juga saya punya softcopy-nya di Iphone saya. Nah, ini dia peta jalur MRT di Singapura, yang saya dapatkan dari web ini.





Dari Aini, saya juga mendapatkan info adanya website : gothere.sg. Di appstore, juga ada aplikasinya, sayangnya berbayar, jadi tidak jadi saya instal di Iphone saya. Tapi saya lebih suka buka website ini lewat safari di Iphone karena tampilannya lebih praktis, hanya tinggal memasukkan titik asal dan titik tujuan, maka akan diberikan petunjuknya untuk berbagai pilihan transportasi yakni MRT, bus, taxi, maupun membawa kendaraan sendiri. Jika memilih MRT, maka kita akan diberi petunjuk stasiun terdekat dari tempat asal dan tujuan, jarak antara titik asal ke stasiun terdekat dan antara stasiun terdekat ke tempat tujuan. Jika naik bus, diinformasikan nomor bus tersebut. Untuk semua jenis transportasi, terdapat informasi perkiraan waktu tempuh dan biaya.

Selanjutnya saya juga mencari tahu bagaimana cara membeli tiket MRT dan saya menemukan video ini di YouTube :



Persiapan yang juga penting adalah mencari Dollar Singapura. Kebetulan beberapa minggu sebelumnya, saya dan mama membantu mencari Euro untuk adik saya Dina yang akan berangkat ke Perancis. Saat itu, kami menukarkan uang di salah satu money changer di Mal Pondok Indah 1. Money changer ini terletak di banking area di lantai dasar. Maka, kami kembali ke sana sehari sebelum berangkat untuk menukarkan Rupiah kami ke S$.

Hmm...sepertinya semua persiapan sudah oke dan packing sudah beres semalam sebelum kami berangkat karena kami (lagi-lagi) akan berangkat pada jadwal paling pagi, yakni pukul 05.40. Demikianlah cerita saya di bagian persiapan untuk liburan ke Singapura.