Tampilkan postingan dengan label Soekarno Hatta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soekarno Hatta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2012

[Business Trip] Makassar : Start the "almost" last trip

Tanggal 18 - 22 Juni 2012, saya bersama teman kantor saya, Wulan, mendapatkan tugas ke Makassar. Tujuan utama dari perjalanan dinas kami ini adalah mendokumentasikan beberapa proyek strategis yang sedang dikerjakan oleh kantor kami maupun infrastruktur besar yang telah lama ada dalam bentuk video maupun foto GPS untuk ditampilkan pada SIGI-PU maupun situation room Pak Menteri. Oleh karena itu, kegiatan kami adalah mengunjungi lokasi proyek atau infrastruktur tersebut. Nah...perjalanan dinas kali ini sangat berkesan bagi saya dan Wulan sejak hari pertama. Bagi saya dan Wulan, ini adalah pertama kalinya kami ke Sulawesi Selatan. Sebenarnya, saya pernah sekali transit di bandara Sultan Hasanuddin, ketika akan pergi ke Manado. Dan judul yang saya pilih itu memang seperti yang saya alami, mengawali perjalanan yang hampir menjadi perjalanan terakhir saya.

Hampir jam 4 pagi saat saya akan berangkat ke bandara, papa yang akan mengantar saya, mendapati bahwa salah satu ban belakang mobil kempes. Awal yang kurang menyenangkan. Akhirnya, saya putuskan untuk naik taksi. Papa kemudian pergi dengan menggunakan motor ke Jalan Raya Bogor, yang terletak sekitar 1 km dari rumah kami, untuk mencegat taksi. Sekitar 15 menit menunggu, datanglah papa bersama taksi berlambang burung biru. Karena alasan keamanan, papa menemani saya ke bandara. Tidak lama saya berangkat dari rumah, Wulan mengirim pesan lewat whatsapp bahwa dia juga telah berangkat dari kosnya di Ciledug. 

Empat puluh lima menit kemudian, Wulan kembali memberitahu telah sampai di bandara sementara saya masih di tol bandara. Oiya, di pagi itu, dari kantor kami, ada beberapa orang yang juga akan melakukan perjalanan dinas ke daerah-daerah yang berbeda dengan kami dan Wulan telah bersama mereka. Setelah melewati perjalanan yang lancar kecuali tersendat menjelang Terminal 2F Soekarno-Hatta, saya sampai di bandara sekitar pukul 5. Teman-teman kantor yang bersama Wulan kemudian duluan masuk untuk check in. Setelah bertemu Wulan, papa langsung kembali ke rumah. Masih ada satu teman kami, Chika, yang telah sampai dari jam 4 tetapi masih menunggu teman barengannya ke Pekan Baru, ibu Endang. Hampir pukul 5.30, ibu Endang baru datang, maka kami langsung masuk untuk check in. Dan... terkejutlah kami kalau antrian sudah sangat panjang padahal waktu terakhir kami check in adalah pukul 06.00 dan penerbangan kami pukul 06.30. Karena saya punya kartu GFF, saya memutuskan untuk antri check in di antrian pengguna GFF yang lebih pendek dengan membawa koper saya dan Wulan sementara Wulan check in di penumpang tanpa bagasi. Tepat pukul 6, saya check in. Setelah itu, kami langsung bergegas ke ruang tunggu. Yak... kesalahan saya, harusnya tadi sampai bandara langsung sholat Shubuh. Tapi, karena kejadian tak diduga, saya baru sholat setelah check in ini. Tidak lama selesai saya sholat, terdengar panggilan untuk boarding. Saya dan Wulan langsung terburu-buru memasuki ruang tunggu. Huffh... ternyata belum boarding. Jadi, kata mbak yang di ruang tunggu, panggilan itu memang sengaja dibuat 10 menit sebelum boarding. Ah... pelajaran lainnya... Besok-besok kalau dinas, check in masing-masing aja, ga perlu pakai tunggu-tunggu. Menunggu di ruang tunggu saja. Toh... kalau telat ga bisa check in, terus tiket hangus, resiko harus bayar tiket perjalanan pengganti kan ditanggung sendiri (so... buat teman kantor yang mungkin baca tulisan ini, harap paham yah :) )

Dan ternyata benar, 10 menit setelah panggilan, kami benar-benar boarding. Ah... sayangnya karena alasan antrian ramai untuk take off dan landing di landasan bandara, pesawat kami terlambat sekitar 15 menit untuk take off. Perjalanan Jakarta - Makassar ditempuh sekitar 2 jam. Kami sampai sekitar jam 10 waktu setempat. Sempat mampir ke toilet setelah keluar pesawat. Ketika kami ke tempat pengambilan bagasi, dari kejauhan saya melihat koper saya, yang punya ciri khas ada simpul pita merah jambu di salah satu resletingnya, sedang berjalan di belt pengambilan barang. Langsung saya berlari mendatanginya sebelum koper saya masuk lagi. Ternyata di depannya juga ada koper Wulan. Ah... pagi ini rasanya cukup banyak kami berlari-lari. Kemudian saya langsung menelpon Pak Agus, pegawai dari Balai Sungai, yang akan menjemput kami. Ternyata Pak Agus sudah menunggu kami bersama Pak Eka dan sopirnya. 

Tidak jauh dari pintu keluar, kami bertemu mereka dan (tanpa mampir ke hotel atau ke kantor), kami langsung menuju lokasi pertama, yaitu proyek Bendung Gerak Tempe. Bendung Gerak Tempe berlokasi di Kabupaten Wajo. Perkiraan lama perjalanan adalah sekitar 4-5 jam. Kami akan melewati Kabupaten Maros, Kabupaten Bone, dan Kabupaten Soppeng. Wow... It's gonna be a long day!

Saya dan Wulan naik mobil bersama Pak Eka dan sopirnya sementara Pak Agus membawa mobil sendiri. Keluar dari bandara kami belok kiri ke arah Kabupaten Maros, di mana terdapat Taman Wisata Bantimurung yang terkenal dengan kupu-kupunya. Pemandangan di kabupaten Maros ini cantik, sawah terbentang, terdapat bukit berbaris-baris, mengingatkan saya akan kampung halaman saya di Sumatera Barat. Kemudian kami melewati jalan di perbukitan yang berkelok-kelok. Yang unik, di kanan kiri, beberapa bagian jalan dibatasi oleh tebing-tebing yang cantik tapi juga sedikit menyeramkan karena membuat jalanan menjadi menyempit dan ada satu bagian yang jika terdapat truk akan lewat harus bergantian dengan kendaraan yang dari arah sebaliknya. Setelah melewati jalan berkelok-kelok, kami melewati jalan lurus yang sangat panjang. Lalu, kembali kami melewati satu bukit yang membuat jalan berkelok-kelok yang cukup menyeramkan karena di salah satu sisinya adalah jurang yang sangat dalam. Kami sempat mampir sekitar jam 12 di Kabupaten Bone untuk makan siang selama sekitar 1 jam.

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan. Ntah karena kami kekenyangan setelah makan siang.... ntah karena jalannya lurus terus.... ntah karena kami semalam kurang tidur karena harus pagi-pagi ke bandara... Selanjutnya kami tertidur di mobil... Tidak lama setelah saya terbangun, saya membaca tulisan bahwa kami sudah memasuki Kabupaten Wajo. Sekitar pukul 4 sore, kami tiba di lokasi proyek Bendung Gerak Tempe.  Di sini kami melakukan tugas kami dan juga menyempatkan untuk sholat.

Dari penjelasan Pak Eka, Pak Agus dan para kontraktor yang bekerja di sana, Bendung Gerak Tempe dibangun untuk mencegah penyusutan air Danau Tempe pada musim kemarau sehingga diharapkan masyarakat yang menggunakan Danau Tempe dapat terus merasakan manfaatnya baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk mata pencarian seperti perikanan sepanjang tahun.  

Tugas selesai, kami diantar ke Makassar oleh Pak Agus, sedangkan Pak Eka menginap di lokasi karena besok pagi ada rapat bersama konsultan. Dari cerita Pak Agus, biasanya mereka di lokasi setiap minggunya dari hari Senin hingga Kamis. Wah.... benar-benar berat yah kerja mereka yang di lapangan. 

Bendung Gerak Tempe (underconstruction)


Sekitar pukul 17.30, kami berangkat dari lokasi Bendung Gerak Tempe menuju Makassar. Kondisi mobil Pak Agus tidak sebaik mobil Pak Eka. Dari cerita Pak Agus, mobil standar kendaraan proyek ini sudah berusia sekitar 18 tahun, tidak ada AC dan mobil tidak dapat melaju kencang. Langit pun mulai gelap. 

Langit benar-benar gelap ketika hujan mulai turun sangat deras dan kami masih sangat jauh dari kota Makassar. Ah... saya menemukan dua lagi "kekurangan" mobil dinas Pak Agus ini yaitu pada kaca depan dan lampu depan. Pada kaca depan... ntah wiper-nya yang sudah menurun fungsi menghela air hujan atau memang kacanya yang sudah butek sehingga tetap tidak bersih walau telah disapu wiper. Lampu depannya kurang terang bahkan cahayanya tidak lurus ke depan, agak melebar. Awalnya saya mengantuk tapi melihat kondisi kendaraan yang saya tumpangi, hilang rasa kantuk saya. Sekali-kali saya bantu Pak Agus menyeka kaca depan yang buram karena berembun. 

Kondisi diperparah dengan lampu jalan yang hampir tidak ada. Belum lagi hanya sedikit kendaraan lain yang kami jumpai bahkan kami sempat lama hanya sendiri di jalanan. Sementara, rumah penduduk juga sangat jarang. Sedikit bersyukur ketika saya bertanya kepada Pak Agus mengenai keamanan di sepanjang jalan. Menurut Pak Agus, jalanan sudah aman karena semua penjahat macam perampok telah "dibersihkan" oleh aparat keamanan. Celetukan Pak Agus "untung bukan malam Jumat" membuat saya jadi gentar. Saya tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin mendengar ceritanya yang kemungkinan arahnya menyeramkan. Perjalanan ini semakin menyeramkan ketika jarak pandang kami sangat pendek sebab kami melewati daerah berkabut. Kabutnya sangat pekat dan hujan masih sangat deras. Saya yang duduk di samping Pak Agus yang menyetir hanya dapat melihat tidak sampai 2 meter di depan saya. Dan masuklah kami ke daerah perbukitan yang tadi kami lewati ketika berangkat yang terdapat jurang di salah satu sisinya. 

Mata saya berusaha untuk melihat jalan. Berjaga-jaga kalau-kalau Pak Agus salah belok. Sepanjang jalan, saya berdoa dalam hati, semoga diberi keselamatan hingga tujuan. Terbayang kalau sampai salah belok dan kami masuk jurang, selesailah perjalanan kami di dunia ini. Dan... hingga di satu belokan... Pak Agus sempat sedikit salah belok. Huffhh... untunglah Pak Agus langsung mengerem dan untunglah pas di belokan itu bukan jurang. 

Ketika memasuki Bone, kendaraan sudah mulai ramai, begitu pula dengan perumahan penduduk. Kami mampir untuk makan malam. Saat itu sudah hampir jam 9 malam. Sekitar 45 menit kami istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Makassar. Di lanjutan perjalanan ini, kami bersyukur di depan kami ada satu kendaraan berlampu terang yang melaju tidak terlalu kencang sehingga dapat kami ikuti sehingga perjalanan kami menjadi lebih aman. Pak Agus baru menyalip mobil ini setelah kami melewati jalan berbukit di Maros. Selepas itu, perjalanan lurus dan lampu jalan mulai banyak. Saya pun lalu tertidur dan baru terbangun ketika sudah masuk kota Makassar. 

Pak Agus mengantar kami ke hotel Panakkukang, tempat kami menginap malam itu. FYI, kami memilih hotel ini karena dari sekian banyak hotel terkenal maupun rekomendasi teman, semuanya penuh dan hotel Panakkukang ini yang tersisa. Pihak hotel sempat menelpon beberapa kali memastikan kedatangan kami. Terakhir saya mengkonfirmasi saat kami mampir makan malam. Kami tiba di hotel sekitar jam 23.30 dengan kondisi fisik dan psikis yang sangat lelah karena perjalanan jauh dan sebagiannya menyeramkan. Rupanya kami kurang beruntung mendapatkan hotel ini. Kamar standar yang kami dapatkan sangat kecil, belum lagi tidak ada jendela, sehingga terasa sangat sumpek. Ahh..kami sangat kecewa tapi apa boleh buat, sudah tengah malam, jadi mau tidak mau, malam itu kami beristirahat di sini. 

Kami bersyukur melewati hari pertama kami di Sulawesi Selatan dengan selamat. Setelah mandi dengan air hangat yang (untungnya) tersedia di hotel dan sholat, saya langsung tidur, mengumpulkan tenaga untuk perjalanan esok hari ke lokasi berikutnya. 

Sabtu, 09 Juni 2012

Singapore Trip : The Beginning

Lagi-lagi terjadi, semalaman sebelum mau berangkat saya hampir tidak tidur karena berangkat pesawat jam 05.40 pagi. Kali ini saya dan mama berencana untuk berangkat dari rumah sekitar jam 02.30 dini hari dengan pertimbangan ini penerbangan internasional yang biasanya waktu terakhir check-in nya lebih awal. Kami sampai di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta kurang dari jam 03.30 pagi. Ini adalah pengalaman pertama kali kami di Terminal 3, khusus bagi saya ini penerbangan pertama saya dengan Air Asia (AA)...eh nyebut merk :P Wah... baru jam segini, bandara sudah mulai ramai saja. Saat di pintu masuk, seperti biasa, menunjukkan tiket ke petugas bandara, dan kami langsung mencari tempat untuk check-in. Nah di Terminal 3 ini terdapat dua jenis check-in counter yang pertama untuk domestik dan satunya untuk internasional. Keduanya tertulis check-in untuk penumpang dengan bagasi. Di bagian domestik, sudah panjang antrian untuk check-in. Akan tetapi... jeenggg... kosong aja gitu di yang internasional, tidak ada petugas, juga tidak ada calon penumpang yang mengantri. Tapi tidak lama kemudian, ada seorang bapak yang menggunakan baju terdapat logo AA muncul di counter, langsung saya tanya untuk check-in international dan dia menunjukkan ke arah mesin check-in yang ada di seberang counter ini untuk check-in tanpa bagasi. Langsung deh saya ke mesin berbentuk mirip mesin ATM itu dan men-check-in-kan untuk saya dan mama. Hahaha... ndeso deh...Walaupun sudah berkali-kali naik pesawat, tapi baru kali ini saya check-in lewat mesin seperti ini. Proses check-in selesai, kami dapat nomor bangku kami masing-masing yang terpisah, namun masih di lima barisan depan.

Selesai check-in, kami langsung berjalan masuk ke sisi kiri dari gedung terminal mengikuti petunjuk untuk mencari ruang tunggu sambil berpikir bagaimana kami membayar pajak bandara. Naik ke lantai 2, lalu kami sampai di depan counter imigrasi yang terletak sebelum ruang tunggu (ya...iyalah....) wah belum ada petugas, jadi kami hanya berdiri saja di tempat antrian sebelum counter imigrasi itu. Penumpang lain, kami lihat, masih santai-santai duduk-duduk di kafe-kafe sebelum counter ini. Perlahan... satu per satu penumpang ikut mengantri di belakang kami. Hingga kemudian mama berbisik pada saya dan bilang bahwa ibu-ibu di belakang kami di belakang print-out boarding pass nya ada tanda pembayaran pajak bandara. Langsunglah mama saya bertanya di mana membayar pajak bandara dan jawabannya benar-benar mengejutkan kami, "itu di sebelah mesin check-in, ada mbak-mbak AA yang duduk untuk pembayaran airport tax". Setelah berterima kasih, langsung kami keluar dari antrian. Sementara mama menunggu tidak jauh dari tempat antrian, saya berjalan cepat kembali ke mesin check-in tadi yang mana saya harus keluar dulu gedung Terminal untuk masuk lagi. Huffhh... benar-benar tak habis pikir, kami berdua sama sekali tidak melihat si mbak-mbak itu. Dalam hati, saya bersyukur karena kami sampai bandara tidak mepet waktu keberangkatan jadi ada accident macam ini tidak mengacaukan keberangkatan kami. Akhirnya saya sampai di meja pembayaran pajak bandara yang memang terletak persis di sebelah mesin check in. Memang di situ ada beberapa mesin check in, kami  tadi check in di mesin paling ujung kanan, sementara meja pembayaran pajak bandara di sebelah mesin paling ujung kiri (hehe.. ngalesan aja yah :P)

Selesai check-in, saya kembali ke tempat mama menunggu dan ternyata antrian sudah lumayan ramai. Akhirnya, sekitar jam 4, datanglah petugas imigrasi. Tidak lama mengantri, kami selesai urusan imigrasi dan masuk ke ruang tunggu. Oiya, sejak masuk ke Terminal 3 ini, saya kagum dengan arsitekturnya yang modern, dengan nuansa kaca dan besi serta plafonnya yang melengkung tinggi, mengingatkan saya akan Bandara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar. Untuk ruang tunggu Terminal 3 ini juga bagus, full karpet, bersih dan tempat duduknya nyaman. Uniknya ruang tunggunya tidak disekat-sekat atau dalam ruangan yang berbeda untuk tiap gate.

Ruang Tunggu Terminal 3 Penerbangan Internasional Bandara Soetta

Masuk waktu shubuh, saya dan mama bergantian sholat shubuh di ruang sholat di ujung ruang tunggu. Sayang ruang sholatnya kecil. Saya kecewa kenapa yah padahal sudah jelas penduduk Indonesia sebagian besar Muslim tapi kok ya di tempat-tempat umum masih banyak yang tidak menyediakan ruang sholat yang memadai. Tidak lama selesai sholat, sekitar pukul 05.15, panggilan untuk boarding. Karena kami dapat kursi lima baris terdepan, maka kami dapat masuk terlebih dahulu. Tepat pukul 05.40, pesawat kami pun lepas landas menuju Singapura...dan... saya pun kembali tidur. Huffhh... tapi sayang, baru sebentar tidur, sudah harus bangun karena untuk mengisi form imigrasi Singapura. Langsung cepat-cepat saya isi punya saya dan mama, untuk selanjutnya tidur lagi... Hehehe...

Ah...rasanya belum lama saya tertidur hingga terdengar suara pramugari menyampaikan sekitar 20 menit lagi akan mendarat di Bandara Internasional Changi Singapura. Setelah penerbangan sekitar 1 jam 40 menit, sampailah kami di Changi. Wah ternyata, Bandara Changi itu biasa aja yah. Arsitekturnya menurut saya tempo doeloe ... ya wajar sih... ini kan bandara sudah lama juga. Akan tetapi, full karpet dan bersih. AA mendarat di Terminal 1 Bandara Internasional Changi. Untuk naik MRT ke pusat kota, kami harus naik sky train ke Terminal 2. Petunjuk-petunjuk yang ada cukup jelas mengarahkan kami ke tempat untuk menunggu sky train. Awalnya, saya dan mama sempat ragu karena hanya kami dan 2 pasang bule yang menunggu di situ. Akan tetapi, saya yakin karena sudah mengikuti petunjuk yang jelas dan saya sudah sempat mencari di Youtube, video untuk naik MRT.

Tidak lama kami menunggu, datang kereta yang mengantar kami menuju Terminal 2, dan dengan mengikuti petunjuk arah, kami menuju ke stasiun MRT yang terletak di basement. Sampainya di stasiun, kami melihat ada loket dengan seorang petugas, saya kemudian menuju loket itu untuk beli tiket ke stasiun Somerset dan petugas itu kemudian memberi tahu saya untuk membelinya di mesin yang terletak di sudut stasiun di belakang eskalator.  Sayangnya, uang S$ yang saya punya paling kecil kelipatan 50 padahal harga satu tiket ke stasiun Somerset sekitar S$ 4 dan, dari keterangan yang saya baca di mesin, uang kembalian yang dapat dikeluarkan mesin paling banyak S$4, maka saya kembali ke loket tadi untuk menukar uang dengan pecahan yang lebih kecil dan petugas yang baik hati itu memberikannya. Yang lucunya, saya awalnya bicara dalam bahasa Inggris karena si bapak petugas itu berwajah Chinese, eh si bapak petugas itu menjawab dengan bahasa Melayu. Kejadian seperti ini banyak terulang selama saya di sini.

Tidak perlu menunggu lama, kereta kami tiba dan kami pun masuk. Untuk sampai di stasiun Somerset, kami harus transit dua kali di Tanah Merah dan City Hall. Ah.... semua begitu mudah dengan adanya peta MRT di Iphone saya. Akhirnya setelah sekitar 40 menit termasuk transit, kami sampai di stasiun Somerset dan kemudian kami berjalan keluar. Saya sempat ragu ketika membaca petunjuk, mau keluar di Somerset/Orchard atau di Somerset/Exter. Akhirnya kami keluar di Somerset/Orchard. Saya dan mama mulai berjalan mengikuti peta yang saya cetak dari website Lloyd's Inn....dan ternyata... kami sepertinya nyasar :D Akhirnya saya mulai bertanya ke seorang ibu yang duduk di halte bus, dia tidak tahu Lloyd Rd.,tempat hotel itu, karena itu bukan jalan besar. Sambil saya menyeret koper kecil saya (sebenarnya koper ini model backpack juga tapi berat euy kalau harus digendong :p) dan mama menenteng tas baju kecilnya, kami kemudian bertanya kepada seorang bapak petugas kebersihan, dia menunjukkan untuk saya lurus menyusuri Orchard Rd. kemudian belok kanan. Dengan masih bingung-bingung, kami mengikutinya... wah kami baru sadar kami salah belok karena belum juga menemukan jalan itu. Saya dan mama sebenarnya berharap ada polisi di pinggir jalan yang bisa kami tanyai, tapi (ajaibnya) tidak ada satupun bahkan selama kami di Singapura, kami tidak pernah menemukan polisi di pinggir-pinggir jalan seperti di Jakarta. Kemudian, saya bertanya pada seorang ibu yang berdiri di sebuah perempatan jalan dekat Orchard Central. Dia juga tidak tahu tapi dia menyarankan kami untuk bertanya ke Kantor Pos yang ada di dekat situ. Saya pun masuk ke kantor pos dan bertanya. Kemudian seorang mbak-mbak di belakang meja pelayanan kantor pos menunjukkan bahwa kami harus berbalik arah, kemudian jalan lurus, hingga menemukan marka nama jalan Lloyd Rd. Mama sudah mulai komplain ke saya karena di Jakarta, saya bilang penginapannya dekat dari stasiun, ini sudah muter-muter jalan lebih dari 30 menit belum ketemu juga. Huffhh... Alhamdulillah, setelah lewat gedung Singtel, saya menemukan marka nama jalan bertuliskan Lloyd Rd. Kami belok kiri, wah ternyata di awal jalan itu nomor 40an, padahal penginapan kami nomor 2. Mama kembali komplain, tapi untungnya ternyata hanya sekitar 100 meter. Melihat penginapannya yang sederhana karena hanya tingkat dua, Mama sempat curiga, jangan-jangan ini penginapan yang "enggak-enggak". Meja resepsionisnya pun biasa saja.

Saat kami masuk penginapan, saat itu sekitar pukul 10.30 waktu Singapura (waktu Singapura lebih cepat 1 jam daripada Jakarta). Saya langsung bilang ke bapak yang di meja resepsionis, kalau saya sudah booking lewat email dan sudah menerima email konfirmasi dari Lloyd's Inn. Bapak tersebut langsung melihat tumpukan kertas booking-an di depan saya. Sempat deg-degan kalau-kalau booking-an saya tidak tercatat, akhirnya lega karena ada di kertas di tumpukan paling bawah. Bapak itu bilang baru boleh check in jam 12. Dia menawarkan kami untuk meninggalkan tas kami di dekat resepsionis yang memang di situ telah terdapat banyak koper berjejer, tetapi kami memutuskan untuk menunggu saja di lobi penginapan yang sangat sederhana itu, karena hanya ruangan kecil dengan ada dua sofa single dan dua sofa double, karena kami khawatir dengan keamanan tas kami yang tidak digembok seperti koper-koper lain yang ditinggalkan pemiliknya.Ketika kami menunggu, datanglah 4 orang turis sepertinya dari China. Mereka hanya sebentar kemudian meninggalkan kopernya. Entah karena iba melihat kami menunggu atau karena kamarnya memang sudah siap, kami dapat check in sekitar pukul 11.00, saya kemudian membayar untuk satu malam dulu karena sepertinya kami, khususnya mama, masih ragu dengan penginapan ini.

Setelah mendapat kunci, kami masuk ke kamar. Wah kamarnya cukup luas, bersih, kamar mandi di dalam (dengan air hangat, toilet duduk, ada bath tub, ada handuk bersih plus toilet kit), tempat tidur ukuran queen, ber-AC, ada lemari plus beberapa gantungan baju, ada TV (hanya menayangkan satu channel stasiun TV lokal tapi beberapa acaranya mirip dengan TV berbayar di Indonesia serta berbahasa Inggris), ada meja rias plus kursi, ada lampu meja di kanan dan kiri kepala tempat tidur, ada water heater. Sayangnya tidak disediakan air mineral dalam botol dan aneka teh atau kopi sachet seperti di hotel umumnya. Intinya, saya cukup puas dengan kamar yang kami dapat. Setelah meletakkan barang-barang, kami langsung bersiap untuk memulai "petualangan" kami di Singapura.

Ke mana saja kami di hari pertama kami di Singapura, saya lanjutkan di cerita berikut yah :)