Minggu, 27 Mei 2012

Pulang Kampung #3

Lanjut ke cerita di hari ke-3, yang juga hari Kamis. Seperti telah saya bilang sebelumnya, sore hari ini, kami berencana untuk ke pemandian air panas di Solok. Nah, untuk paginya, agenda kami mutar-mutar Pasar Padang Panjang dan makan di Sate Mak Syukur. Salah satu yang kerajinan khas dari Sumatera Barat adalah kerudungnya yang memiliki berbagai macam bordir atau sulaman baik itu di pinggir kerudung maupun di bagian kepala. Nah... inilah yang menjadi tujuan saya kali ini. Saya mencari model yang hiasannya relatif sederhana dan belum saya jumpai di Jakarta. Dengan harga mulai dari 30rb untuk kerudung yang berhias bordir atau sulaman. 

Kerudung untuk oleh-oleh
Selain itu, saya juga mulai mencari bros lagi. Yup... saya agak sedikit maniak sama hiasan yang satu ini. Di rumah, sudah hampir 2 toples kue koleksi saya... dan sepertinya masih akan bertambah. Hehe...

Hari sudah siang, perut pun mulai lapar, maka kami mencari angkot untuk makan di Sate Mak Syukur. Letaknya di tepi jalan Padang-Bukittinggi. Sate Mak Syukur ini sangat terkenal bahkan sekarang sudah banyak franchise-nya di Jakarta. Kalau menurut saya, yang di Jakarta 90%-nya lah dari yang di Padang Panjang. Khas dari Sate Mak Syukur adalah kuahnya yang kuning dan potongan dagingnya yang besar dan lembut. Oiya, saya pernah diceritakan oleh alm kakak tertua mama saya kalau di Padang Panjang, daging sapinya kualitasnya sangat baik, terasa "manis" ditambah lagi untuk proses penyembelihannya dilakukan oleh ulama, sehingga dijamin 100% halal. Oiya (lagi), saya lupa bilang yah kalau Padang Panjang ini juga mendapat julukan kota Serambi Mekkah. Hal ini terlihat dari Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang mendapat perhatian khusus di sekolah-sekolah. Selain itu, Kebijakan Pemda yang melarang iklan rokok di setiap sudut kota menurut saya patut diacungi jempol. Hehehe... jadi melantur ke mana-mana yah karena ngomongin Sate Mak Syukur.

Sate Mak Syukur dan Jus Alpukat. Kombinasi yang Dahsyat! *maaf agak lebay*
Selesai makan di Sate Mak Syukur, kami kembali ke Pasar Padang Panjang. Kembali "tawaf", melihat-lihat dan membeli beberapa. Apa aja? ada deh... Setiap pulang kampung, satu hal yang saya senangi. Di sini pasar tradisional masih memegang peranan penting dalam masyarakat. Memang ada satu dua mini market, tapi tetap pusat perputaran uang terbesar di pasar tradisional. Yang penting adalah pasarnya bersih sehingga kita nyaman berjalan-jalan di dalamnya plus udara Padang Panjang yang sejuk. Jadi tidak terasa sudah hampir sore. Kami ingat ada janji sore ini ke Solok. Sebelumnya, kami mampir dulu ke penjual pisang kapik, yang sekarang hanya ada satu-satunya di Pasar Padang Panjang. Cemilan ini sederhana. Dari pisang kepok yang dibakar. Yang menjadi bahan bakarnya pun adalah kulit pisang yang tidak terpakai lagi. Wah... saya selalu takjub dengan konsep sederhana "zero waste" yang diterapkan oleh penjualnya, meskipun kemungkinan besar karena untuk menekan ongkos produksi. Oke...setelah pisangnya dibakar kemudian di-"kapik" atau dalam bahasa Indonesia dijepit oleh 2 buah alat dari kayu yang berbentuk seperti talenan. Selesai dijepit, pisang kemudian ditaburi dengan kelapa muda parut serta gula pasir. Dibungkus dengan daun pisang lalu beralas koran. Sederhana tapi nikmat :)

Pisang Kapik
Dari Pasar Padang Panjang, kami ke rumah Pak Etek Kayo. Selesai sholat, kami langsung berangkat menuju Solok. Padang Panjang - Solok ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dan di perjalanannya akan tampak pemandangan indah dari Danau Singkarak. Salah satu dari 4 danau yang ada di Sumatera Barat, selain Danau Maninjau, serta Danau di Atas dan Danau di Bawah (Danau Kembar). Danau ini menjadi sumber mata pencarian bagi sebagian penduduk yang tinggal di sekitarnya. Ikan yang menjadi endemik danau ini yakni Ikan Bilih. Ikan ini kecil-kecil, enak digoreng biasa atau digoreng balado. Selain itu Danau Singkarak juga digunakan untuk PLTA. Singkarak kemudian semakin dikenal karena adanya turnamen balap sepeda Tour de Singkarak yang rutin diselenggarakan tiap tahun dan diikuti oleh peserta nasional maupun internasional. Belakangan Tour de Singkarak mencakup area perlombaan hampir di seluruh Sumatera Barat.

Salah satu sudut Danau Singkarak
Letak pemandian air panas atau dalam bahasa Minang "aie angek" ada di luar kotamadya Solok, tepatnya di Bukit Kili Timur, yang terletak di jalan raya Padang-Solok. Sekitar jam 5 sore kami sampai, Letak pemandian air panas ini ada di belakang Masjid dan tidak dipungut biaya untuk masuk. Pemandian dipisah antara laki-laki dan perempuan. Pemandian berbentuk kolam yang ukurannya sekitar setengah kolam renang standard dan kedalaman sekitar 150 cm.Yang unik sebagian besar yang mandi di sini tidak menggunakan baju renang tapi kain sarung dan saya pun demikian. Bahkan banyak berpakaian lengkap. Kabarnya banyak orang yang datang rutin bahkan menginap untuk berobat di sini. Yang saya sayangkan dari tempat pemandian ini adalah tidak ada tempat untuk penyimpanan barang maupun kamar bilas. Saya perhatikan banyak yang memakai sabun dan sampo kemudian masuk ke kolam untuk membilasnya. Ditambah lagi, di bagian perempuan, juga digunakan oleh kaum wanita setempat untuk mencuci. Memang airnya bersih dan tidak mengandung belerang, seperti di pemandian air panas yang pernah saya kunjungi di Sari Ater Kabupaten Bandung, tapi rasanya kurang sip aja.  

Oiya tips untuk berendam di sini. Perlahan-lahan masuk ke kolam. Mulai dari kaki dulu karena di pinggir-pinggir kolam ada bagian dangkal. Dan... begitu saya memasukkan kaki saya, saya terkejut dengan betapa panasnya air di kolam. Setelah memasukkan kaki, duduklah di tepi kolam, sambil menyiramkan dengan tangan sedikit-sedikit air ke badan. Yaa.... begitu tubuh mulai tahan dengan panasnya, masuklah berendam ke dalam kolam. Tapi, jangan terlalu lama karena bisa dehidrasi seperti yang saya alami. Setelah sekitar 30 menit berenang. Saya keluar dari kolam dan benar saja, langsung lemas seperti hampir pingsan rasanya. Saya pun ganti pakaian dibantu sama mama sambil duduk. Setelah minum air, akhirnya saya kuat kembali jalan menuju masjid untuk menunggu waktu Maghrib datang sambil mengumpulkan kembali tenaga. Pas pula hujan turun. Setelah maghrib, kembali ke parkir mobil. Setelah meletakkan baju kotor di mobil, kami ke salah satu warung-warung kecil semacam warkop yang cukup banyak terdapat di sekitar pemandian ini. Menikmati segelas teh manis hangat dan pop mie sambil melihat semakin malam ternyata semakin banyak pengunjung yang datang. Kabarnya semakin malam airnya semakin panas. Air yang mengalir di sini bersumber dari mata air di Gunung Talang. 

Setelah tenaga terkumpul, kami bergegas untuk pulang kembali ke Padang Panjang. Setelah tadi sempat lemas, saya sudah segar kembali dan badan terasa lebih ringan. Kami kembali melalui jalan yang sama, menyusuri Danau Singkarak dan Pak Etek mengajak mampir ke salah satu rumah makan di tepi Danau Singkarak. Di sini saya mencoba pangek ikan. Sehabis makan, kami lanjut pulang ke Padang Panjang.

Malamnya tidur nyenyak sekali, hingga di tengah malam, mama membangunkan saya untuk pindah tidur ke rumah Pak Etek Kayo karena dapat kabar mendadak adik Pak Etek Kayo melahirkan malam itu dalam kondisi gawat dan butuh donor darah. Pak Etek Kayo dan istrinya yang merupakan adik mama saya, Tek Mam, bergegas pergi ke RS Yarsi Bukittinggi untuk menjadi donor darah. Sementara saya dan mama ke rumah Pak Etek Kayo untuk menemani anak bungsunya yang tinggal. Besok shubuh, mereka kembali datang dan bawa kabar baik kalau kondisi adik Pak Etek Kayo sudah membaik. Jadinya, hari Jumat, agenda saya hanya di rumah. Sementara, mama dan adik-adiknya, Tek Mam dan Tek Yus, pergi berbelanja ke pasar. Mama belanja oleh-oleh makanan sementara adik-adiknya belanja untuk keperluan dapur. Pulang dari pasar, mama membelikan saya es kampiun dari RM Gumarang, ada pula ketan hitam. Enak..enak..enak... Hehehe...

Es Kampiun

Tidak ada komentar: