Sabtu, 26 Mei 2012

Pulang Kampung #1

Pulang kampung kali ini dadakan. Saya sangat butuh untuk keluar sebentar dari segala rutinitas. Saya mengambil cuti 9 hari kerja, sehingga saya kembali masuk kantor tanggal 21 Mei 2012. Bersama mama, saya berangkat ke Sumatera Barat tanggal 8 Mei 2012 dengan Lion Air jam 05.50.

Semalam sebelum berangkat, saya bisa dikatakan tidak tidur. Setelah mandi dengan air hangat, saya berangkat dari rumah menuju bandara jam 03.00. Sampai di bandara 45 menit kemudian. Pesawat saya tepat waktu dan tidak lama setelah pesawat lepas landas, saya langsung pulas tertidur. Saya terbangun ketika ada suara "...kita sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau di Padang...." Tepat 1 jam 20 menit, mendaratlah pesawat yang saya naiki. Jam 08.00, Pak Etek Kayo, suami adik bungsu mama saya, datang menjemput. Berangkatlah kami menuju Padang Panjang, kampung halaman mama saya. Yaa... enaknya liburan di kampung halaman, bebas biaya transportasi dan hotel. Mana kalau kemana-mana, siap diantar. Malahan kali ini, biaya tiket pesawat, saya "ditraktir" mama saya. Hehehe...

Bandara sebenarnya bukan terletak di kota Padang tapi masuk kabupaten Padang Pariaman. Dari bandara ke rumah di Padang Panjang, memakan waktu 1 jam jika lumayan ngebut atau 1,5 jam kecepatan rata-rata. Dari bandara, banyak tersedia taksi maupun mobil travel ke kota lain seperti Padang Panjang, Solok, atau Bukittinggi. Padang Panjang merupakan kota yang terletak di antara kota Padang dan Bukittinggi, dua kota yang dapat dikatakan paling terkenal di Sumatera Barat. Padang merupakan ibukota provinsi, sementara Bukittinggi merupakan kota tujuan wisata yang sangat terkenal dengan ikonnya Jam Gadang. Ketika memasuki kota Padang Panjang, kita akan disambut oleh air terjun yang terletak di tepi jalan raya Padang-Bukittinggi yakni air terjun Lembah Anai.

Sayangnya, dalam perjalanan menuju rumah di Padang Panjang kali ini, saya melewatkan menikmati cantiknya air terjun Lembah Anai karena tidak lama berangkat dari bandara, saya kembali tertidur. Yaa... seperti sudah saya sampaikan sebelumnya, semalam saya hampir tidak tidur. Akan tetapi, karena sudah sangat sering melihat, jadi yaa... biasa saja. Terakhir saya mampir ke air terjun ini, awal tahun ini, waktu itu dalam perjalanan menuju bandara setelah 4 hari di kampung karena kakak tertua mama saya berpulang ke Rahmatullah. Biaya masuk ke sini sangat murah, hanya Rp 2000,-. Bisa berfoto-foto dan jika ingin, berenang. Bersiap karena airnya sangat dingin.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, sampailah kami di Padang Panjang. Saya pun langsung terbangun. Sambil "mengumpulkan nyama", saya melihat sekitar. Loh...ini bukan di rumah alm.kakek-nenek saya. Ini masih di Pasar Padang Panjang. Ternyata, Pak Etek mengajak kami sarapan dulu di RM Gumarang yang merupakan milik keluarganya. Makanan di RM ini enak-enak semua, ini benar lho bukan karena punya saudara. Yang kerap menjadi oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta adalah gulai kambingnya tapi harus pesan atau belinya pagi-pagi benar, kata mama sekitar jam 6 gitu, selepas itu, sudah "sold out". Biasanya, kalau pulang ke Jakarta, pilih pesawat siang, jadi bisa bawa gulai ini buat oleh-oleh. Selain menu seperti rumah makan Padang umumnya, ada juga menu rumah makan umum seperti nasi goreng, mie goreng dan sejenisnya. Untuk minuman, banyak tersedia jus ataupun minuman yang umum tersedia pada rumah makan pada umumnya, plus menyediakan juga minuman khas Minang yaitu es kampiun. Akan tetapi, karena perut saya masih belum siap untuk makan yang terlalu berbumbu, saya memesan nasi goreng saja dan minum air putih.

Kenyang sarapan, kami menuju ke rumah Pak Etek. Di situ, tidak terlalu lama. Kami mengajak 2 sepupu saya untuk berenang di Minang Fantasy Water Park (Mifan) yang ada di Padang Panjang, tepatnya di Minang Village, di mana di situ terdapat museum yang merupakan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau berbentuk Rumah Gadang di dalamnya terdapat diorama dan foto-foto yang menceritakan sejarah serta budaya masyarakat Minangkabau, termasuk perjuangan masyarakat Minangkabau semasa penjajahan. Di dalamnya juga terdapat replika baju adat dan pelaminan Minangkabau. Akan tetapi, kali ini saya tidak masuk ke dalamnya. Yaa... karena tujuan utama saya ingin berenang di Mifan dan saya sudah beberapa kali ke sana. Foto-foto berikut diambil ketika saya pulang kampung 5 tahun lalu.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau, Padang Panjang

Bagian Dalam Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau


Salah satu model pelaminan khas Minangkabau
Walaupun di Jakarta, banyak waterbom, yang saya suka dari Mifan adalah pemandangan di sekelilingnya yang masih hutan-hutan alami, udaranya yang sejuk serta tiket masuknya yang relatif murah dibandingkan dengan waterbom yang memiliki fasilitas sejenis di Jakarta. Biaya masuknya Rp 50.000 per orang.Di dalam Mifan ini, tidak hanya waterbom tapi juga wahana permainan seperti mini roller coaster, karosel, bom-bom car serta sarana outbond. Untuk ke waterbom, tersedia kendaraan pengangkut berupa mobil kereta, dan ini gratis. Di waterbom, terdapat beberapa sarana seperti seluncuran lurus serta dua macam seluncuran berkelok-kelok yang terdiri dari dua jenis ketinggian, kolam yang terdapat mainan seluncuran mini serta mainan ember besar yang tiap sekitar 5 menit penuh dan menumpahkan airnya, kolam renang standar, semacam lazy pool, serta kolam ombak yang memunculkan kesan seperti tsunami yang hanya ada sekali sehari.

Di belakang saya itulah seluncuran lurus dan berkelok-kelok
Byurr.... Air tumpah ketika ember sudah penuh... Airnya dinginn...

"Lazy pool" dan kolam ombak
Beruntunglah saya ke sana pada hari Selasa karena jika akhir pekan maka Mifan ini ramai sekali. Banyak pengunjung, tidak hanya dari Sumatera Barat tapi juga sekitar seperti dari Jambi maupun Riau. Di Mifan ini juga terdapat penginapan. Saya tidak tahu mengenai harganya. Kami bermain sekitar 2 jam di sini, terhenti karena hujan turun. Akhirnya kami kembali ke rumah Pak Etek dan sorenya ke rumah alm kakek nenek saya. Semenjak kakek, nenek serta kakak tertua mama meninggal, di rumah ini hanya ada satu adik mama beserta suami dan dua anaknya. Bahkan sekarang tambah sepi karena satu anaknya sedang belajar di Padang untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Karena itu pula kami baru sore ke rumah karena siangnya semua bekerja dan sekolah. Oiya, satu lagi yang menurut saya membuat Padang Panjang adalah kota yang cocok untuk beristirahat yaitu udaranya yang sejuk cenderung dingin, serta pemandangan di luar rumahnya yang indah. Keluar rumah, saya dapat memandang dua gunung di Sumatera Barat yakni Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Belum lagi berjejer bukit-bukit kecil.

Begitulah hari pertama saya di kampung, masih panjang cerita saya selanjutnya :)

Tidak ada komentar: