Sabtu, 09 Juni 2012

Singapore Trip : The Journey Continue...

Oleh karena hari sudah siang, maka tujuan kami pertama adalah mencari tempat makan. Sebenarnya di dekat Lloyd Rd, ada berjejer tempat makan. Akan tetapi, karena sebagian besar Chinese food, kami ragu akan kehalalannya, jadi kami tidak makan di sana. Ada sebuah tempat semacam warung yang menjual  makanan India dan memasang "Halal". Ahh...tapi saya malas mampir ke sana karena dulu waktu saya sempat bekerja di perusahaan sub kontraktor telekomunikasi dari India, saya sempat melihat dan membaui makanan mereka sehingga saya tahu seperti apa makanan mereka dan saya tidak suka dengan bau makanan mereka yang tercium ketika mereka makan siang di ruangan. Ada pula gerai Domino Pizza, tapi mama sudah pesan dari awal, inginnya makan nasi. Kami sempat mampir ke mini market Seven Eleven (sevel), membeli minum air mineral dan kue kecil. Oiya, ada sedikit fakta unik sevel buat saya. Saya belum pernah sekalipun masuk ke sevel di Jakarta bahkan di Indonesia sampai detik saya menuliskan cerita ini. Saya pertama kali mengenal sevel itu lima tahun yang lalu di Bangkok. Sama seperti di Singapura, sevel di Bangkok berupa mini market berukuran kecil (ya iyalah... kan "mini") dibandingkan di Jakarta. Oiya, harga air mineral kemasan botol sedang yang di Jakarta sekitar Rp 2000 hingga Rp 3000,- , di Singapura jauh lebih mahal sekitar $S 2 (Rp 15.000,-).

Lalu kami berjalan menuju Orchard Rd. sempat masuk ke salah satu mal yang terdekat tapi food court ada di lantai paling atas (lantai 7 atau 8). Kami memutuskan untuk keluar saja karena kalau nanti dibela-belain ke atas ternyata tidak ada yang cocok, banyak waktu terbuang. Akhirnya kami berjalan menyusuri Orchard Rd, melihat ada suatu food court di basement pertokoan. Kami memutuskan masuk dan melihat salah satu gerai yang ada di sana menjual nasi lemak khas Malaysia. Di sana juga ada dua meja yang sedang makan menu itu. Dari bicaranya, sepertinya mereka orang Indonesia. Kami memutuskan membelinya. Harganya sekitar S$ 2,8. Kami dapat paket nasi terdiri dari nasi lemak, satu paha ayam goreng, satu ikan goreng kecil, asinan, dan sambal. Semuanya disajikan dalam nampan yang beralaskan kertas seperti kertas pembungkus ketoprak di Indonesia. Tidak ada piring. Wah rasanya sebenarnya kurang enak, nasinya seperti kurang matang, ayam dan ikannya hambar, asinannya lumayanlah, sambalnya ga enak. Saya tetap paksakan makan dan menghabiskan setengahnya, sementara mama sepertinya sedikit sekali makannya. Berbeda sekali dengan dua meja di samping kami itu yang menghabiskan makanan mereka. Setelah itu mereka memakan rujak. Wah ternyata di food court ini ada gerai buah. Mama meminta saya membeli pisang. Saya membeli dua pisang yang harganya masing-masing S$ 0,8. Lumayan perut sudah terisi, kami melanjutkan perjalanan.

Kami berjalan menyusuri Orchard Rd, melihat-lihat beberapa toko. Ada di satu toko yang menjual tas-tas branded, saya naksir dengan salah satu tas wanita yang dipajang di etalase paling depan. Akan tetapi, setelah melihat harganya dan juga uang cash yang saya bawa terbatas (masih ingat kan saya tidak punya cc), ditambah lagi baru beberapa hari yang lalu saya baru membeli tas dan tas itu yang sedang saya gunakan, saya tidak membelinya. Yaa... I am a lil bit sophaholic and my fave are bags, shoes, and accesories :D Mama kemudian mengusulkan untuk ke tempat di mana harga barangnya murah-murah dan saya teringat pernah lihat di TV dan sempat browsing juga, ada di Mustafa Center, maka saya mengajak mama ke sana.

Untuk ke Mustafa Center, kami naik MRT dari stasiun Somerset lalu transit di Stasiun Dhoby Ghaut untuk pindah koridor, lalu melanjutkan ke stasiun Farrer Park. Di sinilah kami turun. Ada satu accident ketika saya keluar dari stasiun, tiket saya tidak dapat digunakan untuk membuka pembatas pintu keluar. Padahal, mama sudah keluar terlebih dahulu. Sepertinya, saya salah menekan stasiun tujuan waktu membeli tiket di mesinnya. Untunglah di dekat sana ada seorang petugas wanita duduk, dia lalu menunjukkan kantor pengurusan tiket dan juga menunjukkan arah menuju Mustafa Center, padahal yang ini kami tidak bertanya. Sepertinya dia sudah paham kalau turis berwajah Melayu seperti saya dan mama, tujuan utamanya di daerah sini adalah Mustafa Center. Dengan bantuan petugas di kantor pengurusan tiket, saya berhasil keluar. Kami pun keluar stasiun, sempat bertanya lagi dengan seseorang pemuda di dekat pintu keluar stasiun di mana Mustafa Center dan dia bilang sudah dekat sambil menunjukkan sebuah gedung pertokoan kecil yang terdiri dari dua lantai yang berada di sebrang tidak jauh dari keluar stasiun. 

Tidak sampai 50 meter, kami sudah di depan Mustafa Center. Kami masuk ke dalam dan melihat di lantai 1 banyak dijual jam tangan, alat elektronik, perlengkapan rumah tangga, dan perhiasan emas (wah saya tidak tahu ini emas asli atau sepuhan karena saya memang tidak tertarik membeli perhiasan dan modelnya *maaf* menurut saya norak). Tidak lama kami keluar, di samping kanan Mustafa Center terdapat tempat-tempat duduk. Di sana banyak orang keturunan India sedang makan siang. Kaki kami sudah lumayan letih karena banyak berjalan ketika mencari-cari penginapan dan makan siang tadi, maka kami putuskan duduk di sana. Melihat-lihat sekeliling sambil mengistirahatkan sebentar kaki kami. Setelah sekitar 15 menit beristirahat, kami melihat ada sebuah toko yang ramai dikunjungi pembeli di sebelah Mustafa Center, maka kami mengunjungi toko itu. Di sana menjual berbagai pernak-pernik dengan harga S$ 10 untuk 3 buah barang. Di sana ada gantungan kunci, berbagai model pajangan, kaos, jam tangan, tas, macam-macamlah seperti toko yang menjual oleh-oleh pada umumnya. Saya perhatikan sebagian besar pengunjungnya adalah orang Indonesia. Di sana, kami hanya membeli 3 buah pajangan berbentuk piring kecil yang berukir khas Singapura yakni dengan patung Merlionnya. 

Di depan Mustafa Center

Kami lanjut melewati toko-toko sepanjang jalan di sana dan yaa...menurut saya, barang-barangnya tidak menarik bahkan *sekali lagi maaf* kualitasnya kurang sekali serta modelnya ketinggalan jaman. Lalu kami melihat ada mesjid, wah... pas sekali, kami berencana untuk sholat Dzuhur karena sudah menunjukkan jam 1 siang. Ramai sekali jamaah yang masuk masjid dan semuanya laki-laki. Yak... kami dicegah masuk masjid oleh salah seorang pemuda. Dia mengatakan baru boleh masuk jam 2 siang. Heloooo... saya baru ingat... ini kan hari Jumat, waktunya sholat Jumat... pantas saja. Kami lalu berjalan berbalik arah kembali menuju Mustafa Center, duduk-duduk di tempat duduk yang ada di depannya. Yaa... kami mulai kecapekan. Belum lagi cuaca panas dan matahari bersinar cukup terik. 

Setelah sekitar 15 menit kami berjalan menjauhi Mustafa Center. Melihat sebuah mal yang cukup besar, City Square Mall. Kami memutuskan masuk ke sana. Kami hanya melihat di lantai 1, di sana ada Metro Dept. Store dan Charles & Keith selain berbagai toko pakaian, sepatu, dan makanan. Saya sempat masuk ke Charles & Keith hanya untuk membandingkan harga dan model dengan yang di Jakarta, ternyata tidak seberapa beda. Tidak lama kami keluar kembali untuk kembali duduk beristirahat. Hehehe... sering betul yah duduk istirahatnya. Wah... capek banget kami sebenarnya, padahal hari masih sekitar jam 1.30. Dan... kemudian saya teringat pada satu misi saya, yaitu berfoto di depan patung Merlion. Langsung saya mengajak mama ke Merlion Park.



Mama di depan City Square Mall
Untuk menuju Merlion Park, kami kembali masuk ke stasiun Farrer Park lalu transit di stasiun Dhoby Ghaut dan turun di stasiun Esplanade. Nah ini dia, saya bingung keluarnya yang mana, tapi saya kemudian memutuskan mengikuti petunjuk arah Esplanade Theatre karena saya ingat di gambar-gambar yang saya sering lihat di internet, letak Merlion Park berdekatan dengan Esplanade Theatre. Kami mengikuti petunjuk tapi tidak juga menemukan jalan keluar, hingga terhenti di petunjuk yang menunjukkan untuk masuk ke Esplanade Theatre harus masuk ke sebuah lorong panjang. Awalnya saya ragu untuk masuk. Seorang petugas keamanan gedung keturunan India, melihat kami kebingungan. Saya lalu menanyakan untuk ke Esplanade Theare, dia bilang lewat lorong panjang itu sekitar 100 meter. Oke kami pun masuk... Sedikit sepi... tapi yang unik di dalamnya ada beberapa pajangan kaset-kaset lama. Saya minta tolong mama untuk mengambil foto saya di sana.

Itu Kaset Semua di Belakang Saya

Akhirnya kami bertemu ujung akhir lorong itu, dan ternyata keluar di parkiran mobil dalam gedung. Wah... kami bingung, lalu kami masuk ke pintu masuk gedung tidak jauh dari sana. Hanya ada lift. Kami masuk menuju ke lantai pertama. Kami memutuskan keluar lift dan kemudian menyadari kami sudah di dalam Esplanade Theatre. Kami langsung keluar gedung. Mencari-cari di mana patung ikan berkepala singa itu. Kami ke sebelah kiri dari pintu keluar Esplanade Theatre dan inilah pemandangan di depan kami.

Gedung-gedung Pencakar Langit Singapura

The "boat shape" Building 
Wah Merlion Park ada di seberang sana. Kami harus menyebrangi jembatan yang lumayan panjang. Wah... cuaca panas dan matahari yang sangat terik menjadi tantangan. Belum lagi kami sudah sangat kecapekan. Akan tetapi karena ini sudah menjadi salah satu tujuan utama saya, maka saya membujuk mama yang sudah sangat kecapekan untuk ke sana. Saya bujuk pelan-pelan aja nanti jalannya sambil berpayung (yak... ada payung lipat di tas saya yang saya bawa dar Jakarta). Terus sesekali berhenti untuk berfoto. Di jembatan itu dihiasi oleh bunga bougenville berwarna ungu di pinggir-pinggirnya. Tanaman bougenville ini tumbuh cantik sekali, banyak bunganya bahkan lebih banyak dari daunnya.

View from The Bridge : Esplanade Theatre, Mandarin Oriental Hotel, and The Singapore Flyer
On the Bridge
 Akhirnya kami berhasil sampai di Merlion Park and my mission is accomplished!

Me at Merlion Park do a pose just like million other peoples :D

Puas menikmati Merlion Park, kami pun kembali ke penginapan. Dan karena sudah terlalu letih, kami tidak sanggup kalau harus kembali ke stasiun MRT dengan cara yang sama ketika kami datang tadi. Maka kami bertanya letak halte bus terdekat kepada seorang kakek petugas kebersihan di dekat situ. Dia bilang kami harus menyebrang jalan lalu berjalan sedikit. Di situ ada halte bis. Kami mengikuti sarannya. Akhirnya kami sampai di halte bis. Di halte bis, ada petunjuk nomor bis dan besar biaya untuk setiap tujuan, maka saya mencari tujuan Somerset. Kemudian yang saya bingungkan,bagaimana cara membayar di bis, apakah harus punya tiket day pass atau bisa bayar di tempat. Saya lalu bertanya kepada seorang bapak yang berdiri di dekat kami. Ternyata dia orang Indonesia. Dia memberitahu kami bahwa kami dapat bayar di dalam bis pada sopirnya dan dengan uang pas. Ternyata bapak itu tujuan Orchard. Jadi kami menaiki bis yang sama. Sekitar 15 menit menunggu, datanglah bis kami. Saya pun dapat melihat-lihat Singapura lebih banyak saat naik bis karena sebagian besar MRT di bawah tanah. Kami turun di halte Somerset dan berjalan dengan kaki yang sangat letih ke penginapan. Sempat mampir ke sevel untuk beli air minum. Sampai penginapan sekitar jam 17.00. Setelah menjamak sholat Dzuhur dan Ashar, saya dan mama langsung tepar dan tertidur hingga sekitar jam 19.00. Kami bangun untuk mandi dan sholat Maghrib. Untuk menu makan malam, kami makan pop mie yang kami bawa dari Jakarta. Sedihnya malam ini hingga besok pagi, mama diare. Untunglah mama sudah persiapan bawa obat-obatan dari Jakarta. Sempat takut juga saya kalau sampai mama sakit tapi syukurlah sudah membaik besoknya dan kami siap untuk bermain-main di Universal Studio Singapore di hari kedua kami.



Tidak ada komentar: